Sabtu, 20 November 2010

SUMIYATI OH.. SUMIYATI

Malang nian nasib Sumiyati, Tenaga Kerja Wanita asal Dompu NTB ini. Dia mengalami penyiksaan berat yang dilakukan oleh majikan dan anak majikannya waktu bekerja di Arab Saudi. Tidak tanggung-tanggung, majikannya menggunting bibir atas Sumiyati. Selain itu dia juga mengalami berbagai penyiksaan fisik lainnya. Berbagai penyiksaan tersebut membuatnya terbaring lemah di sebuah rumah sakit di Arab Saudi sana.

Tak tertanggungkan penderitaan yang kini dialami oleh Sumiyati. Sumiyati yang dulu berwajah manis dan lembut kini berubah bak tengkorak hidup. Pipinya yang dulu gembul kini kempot bagaikan tak terurus. Siapakah yang peduli dengan nasib Sumiyati?
Apakah pihak PJTKI peduli pada nasibnya? Ataukah pemerintah bersedia menanggung semua beban yang kini dialami oleh Sumiyati?

Memang tidak masuk di akal. Kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini bak kejadian di dalam negeri dongeng. Nurani manusia negeri ini telah terkikis, terkorupsi oleh gelimang materi. Pihak PJTKI hanya peduli pada uang yang bisa didapatkan dari para Tenaga Kerja. Mereka tidak peduli ketika tenaga kerja yang mereka kirimkan ke luar negeri mengalami ketidakadilan, mulai dari gaji yang tidak dibayar, pemerkosaan, pemyiksaan fisik sampai pada cedera berat dan penghilangan sebagian anggota tubuh, seperti yang telah dialami Sumiyati.

Sementara para tenaga kerja ini ternyata tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai oleh pihak PJTKI yang mengirimkannya. Bayangkan bagaimana jadinya bila Anda berada di negeri asing yang Anda tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan bahasa mereka, atau paling tidak berkomunikasi dengan bahasa yang banyak digunakan?

Sumiyati ini tidak bisa berbahasa Arab dan Inggris. Maka bagaimana caranya dia bisa mengerti perintah dari majikannya? Bagaimana mungkin majikannya tidak kesal karena berulangkali menyuruh Sumiyati untuk mengepel, menyeterika ataupun mencuci baju tetapi Sumiyati tidak kunjung mengerjakannya karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh majikannya?

Tentu saya tidak bermaksud untuk membela majikan Sumiyati. Nurani manusia mana pun tidak akan terima pada perlakuan yang kejam, tidak beradab dan tidak manusiawi ini. Bagaimanapun juga banyak faktor yang menyebabkan penyiksaan TKI terus berlanjut selain yang telah saya sebutkan di atas. Antara lain lemahnya diplomasi pemerintah dengan negara-negara di luar negeri dan tidak tegasnya sikap pemerintah pada PJTKI PJTKI liar yang banyak beroperasi di negeri ini.

Meskipun umpamanya pemerintah menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri masih banyak PJTKI liar yang mau dan akan mengirimkan TKI ke luar negeri, karena masih banyak juga warga Negara Indonesia yang tergiur oleh gaji yang banyak dengan bekerja di luar negeri. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan di negeri sendiri dan taraf pendidikan yang rendah memicu banyaknya orang yang ingin mengadu nasib ke luar negeri. Mereka melihat peluang emas memiliki gaji besar hanya dengan menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang.

Dalam hal ini bisa kita lihat efek dominonya, berputar-putar ke masalah itu-itu saja. Rendahnya taraf pendidikan sekarang ini dipicu oleh rendahnya anggaran biaya pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu perlu usaha yang simultan dan kontinyu dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu waktu bertahun-tahun dan perlu kerjasama yang kompak dari semua elemen pemerintahan untuk mewujudkannya. Yang terpenting pemerintah mau serius berusaha menyelesaikan masalah ini sehingga tidak akan ada lagi Sumiyati-Sumiyati yang lain. Tidak hanya bereaksi ketika terjadi penyiksaan lagi dan mengendur lagi setelahnya.

Tidak ada komentar: