Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Setiap ibu pasti mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna. Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat. Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangannya.
Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha menyikapi “kesulitan-kesulitan yang dialaminya.
Akan tetapi keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.
Ada beberapa kesalahan yang sering ibu lakukan ketika memotivasi anak, yaitu :
1. Membuat Anak Merasa Bersalah
Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri dan tidak mempunyai rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerjanya.
Motivasi yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya ketika ibu mengatakan : “ Kamu sayang sama Mama, nggak? Kalau sayang sama Mama, kamu harus belajar yang baik. Mama tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Mama, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat rangking satu. Lihat itu, Papa tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit. Makanya kamu harus pintar.”
2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai
Ketika anak Anda pulang ke rumah dan menunjukkan hasil ulangannya kepada Anda, lalu Anda menanggapi begini: “ Aduh, Nak. Masak pelajaran begini saja kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah. Coba lihat itu kakakmu. Dia pintar, nggak seperti kamu.”
Jika hal ini terjadi, pasti dia akan kecewa. Menurutnya dia sudah berusaha keras dan dia juga sudah mendapatkan nilai yang lebih baik dari biasanya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai. Bukan hanya itu, mental anak juga bisa sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bukan itu saja, anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga akhirnya ia mendapati dirinya benar-benar bodoh di sekolah.
Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehingga ia akan lebih bersemangat untuk mencapai prestasi yang lebih baik di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.
Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji. Jika tidak anak akan merasa bosan belajar sehingga dia tidak bisa berprestasi lagi.
3. Menghancurkan Harga Diri Anak
Anda pasti sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan. Kalau saja anda merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orang tua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.
Sikap menceritakan keburukan dan kejelekan anak kepada orang lain ini dapat menjadikan anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan. Pada saat itu ia telah berhasil melampiaskan kejengkelan terhadap orangtua.
4. Membuat Anak Defensif
Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap defensif, tidak mau menuruti kemauan orang lain. Jika sangat terpaksa, ia baru akan menurut. Tetapi hanya agar tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.
Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo sekarang belajar.”
5. Mendorong Anak Balas Dendam
Ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk membalas dendam. Misalnya sikap keras dan memaksakan kehendak kepada anak. Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.
Seorang ibu bisa mengajukan alternatif hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian.
Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang kuat. Hal ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun anak jauh dari orangtua.
Selamat Mencoba………….
1 komentar:
Artikel ini judulnya Kesalahan-Kesalahan Dalam Memotivasi Anak.
Maaf ya terburu-buru jadi lupa menuliskan judulnya. Semoga bermanfaat
Posting Komentar