sentra belajar anak anda Melayani les privat, les mengaji, terjemahan dan pengetikan dokumen
Laman
▼
Sabtu, 30 Juni 2012
API DI BUKIT MENOREH BUKU 02
Di Sangkal Putung Agung Sedayu diterima dengan baik oleh Demang Sangkal Putung, dan dengan segera dipertemukan dengan Widura. Memang sebelumnya prajurit Pajang di Sangkal Putung mencurigai Agung Sedayu. Tetapi setelah Agung Sedayu mengaku dia adalah utusan Untara. Agung Sedayu segera dipersilahkan masuk.
Sebenarnyalah Widura sangat terkejut melihat kedatangan Agung Sedayu seorang diri. Karena dia tahu benar sifat Agung Sedayu yang penakut itu. Agung Sedayu yang berhati lembut itu pun tidak suka dengan peperangan. Karena di peperangan akan ada banyak korban yang berjatuhan, tanpa menghiraukan lagi tata perikemanusiaan.
Segera setelah Widura mengetahui kabar yang dibawa oleh Agung Sedayu, bahwa laskar Tohpati sedang menuju Sangkal Putung dan akan merebut persediaan makanan yang kaya di sana, ia mempersiapkan prajurit Pajang dan pengawal Sangkal Putung untuk menghadapi sempalan laskar Jipang yang dipimpin oleh Tohpati dengan diam-diam tanpa meresahkan warga.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin pasukan dan pemimpin kademangan sangkal Putung disepakati bahwa laskar Widura akan menyambut kedatangan laskar Jipang di prapatan Pandean. Mereka akan menggunakan strategi benteng pendem karena jumlah lawan jauh lebih banyak dari jumlah mereka. Karena Widura harus memimpin pasukan, maka disepakatilah bahwa Sidanti – seorang anak muda murid Kiai Tambak Wedi dari lereng Gunung Merapi yang pilih tanding – harus menghadapi Tohpati atas permintaannya sendiri. Tetapi Widura menyarankan Sidanti untuk berhati-hati dan memerintahkan pembantu terpercayanya, Hudaya dan Citra Gati untuk mengawasi Sidanti kalau-kalau dia tidak bisa mengatasi Tohpati.
Saat itulah muncul bibit-bibit ketidaksukaan Sidanti kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu yang memang seorang penakut dan peragu, tidak menjawab ketika Sidanti berbicara kepadanya. Sidanti yang mudah tersinggung sangat marah dan menganggap Agung Sedayu sangatlah sombong. Demikianlah pertentangan itu akan memuncak kalau saja Widura tidak segera melerainya dan memerintahkan semua pasukan untuk segera berangkat. Sementara itu semua orang di sana merasa sangat berterimakasih kepada Agung Sedayu karena jasanya memperingatkan orang-orang Sangkal Putung tentang kedatangan laskar Tohpati sehingga mereka sempat mempersiapkan diri. Di mata mereka Agung Sedayu adalah pahlawan.
Ketika pasukan itu telah berangkat, Widura menyuruh Agung Sedayu untuk tidur di pembaringannya. Tetapi Agung Sedayu yang gelisah tidak dapat tidur. Dia takut jika sewaktu-waktu laskar Tohpati ada yang menyusup sampai ke kademangan induk. Selama perang berlangsung dia mondar-mandir dengan gelisah. Tetapi ternyata tanggapan orang-orang yang mengungsi di kademangan induk berbeda. Mereka justru merasa aman melihat Agung Sedayu berjalan ke sana ke mari karena mereka menganggap Agung Sedayu sedang berjaga-jaga dari kemungkinan masuknya laskar Tohpati ke kademangan induk dan menyerang para pengungsi.
Di antara pemimpin prajurit di Sangkal Putung tampaklah seorang anak muda yang gemuk berdiri di depan pasukan yang terdiri dari anak-anak muda Sangkal Putung. Dia adalah Swandaru, anak laki-laki ki Demang yang kemudian menamai dirinya sendiri dengan Swandaru Geni. Anak yang membawa pedang bertangkai gading itu adalah anak yang periang, tetapi mempunyai cita-cita yang tak terbatas di dalam hatinya. Anak itu tidak menyukai Sidanti karena Sidanti pernah menamparnya suatu ketika. Tentu saja dia tidak dapat membalas karena ilmu Sidanti sangat tinggi baginya. Selama berada di Sangkal Putung Sidanti masih selalu dibimbing oleh gurunya yang mendatanginya dengan diam-diam. Sementara Swandaru tidak pernah berguru. Ilmunya hanya didapatnya dari ayahnya. Tetapi dia cukup berbangga dengan kekuatan tenaganya yang mampu mengangkat seekor anak kerbau. Akan tetapi jauh di dasar hatinya dia juga mempunyai keinginan yang sama dengan Sidanti, membunuh Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan. Ketika Swandaru mendekati Sidanti dan mengutarakan keinginannya untuk membantunya menghadapi Tohpati, Sidanti segera mengusirnya dengan kasar.
Ternyata Sidanti yang begitu bernafsu mengalahkan Tohpati dengan tujuan agar karirnya dalam bidang keprajuritan cepat melonjak naik, tidak bisa mengalahkan Macan Kepatihan itu. Berkali-kali Sidanti terdesak sehingga memaksa Hudaya dan Citra Gati datang membantu. Akan tetapi setiap Hudaya dan Citra Gati berencana menyerang Tohpati, pengawal-pengawal Tohpati selalu berhasil menghalau keduanya sehingga menyebabkan keadaan Sidanti semakin sulit.
Widura melihat kesulitan yang dialami oleh Sidanti, Hudaya dan Citra Gati dan memutuskan untuk mengambil alih menghadapi Tohpati. Tetapi seperti Sidanti, Widura bukan lawan yang seimbang untuk Tohpati. Sebaliknya, keadaan di medan perang secara keseluruhan pasukan Widura justru berhasil mengalahkan pasukan Tohpati. Tohpati sadar bahwa pasukannya akan kalah. Tetapi dia berusaha keras untuk dapat mengalahkan Widura, kemudian setelah itu dia akan membunuh Sidanti juga, yang ternyata murid dari seorang yang pernah berkhianat kepada gurunya, Patih Mantahun sewaktu berada di Istana Jipang dahulu.
Ketika Tohpati semakin berhasil mendesak Widura, tiba-tiba datang ayunan pedang yang deras mengarah ke Tohpati. Tohpati yang terkejut berusaha menangkisnya sehingga pedang itu terpental jatuh. Pemegang pedang itu yang ternyata adalah Swandaru, yang terpana akan kekuatan Tohpati yang sangat besar. Tohpati pun merasakan sakit pada telapak tangannya yang memegang senjata berupa tombak berkepala tengkorak itu. Tohpati yang menjadi marah berusaha menyerang Swandaru yang masih terpana. Beruntunglah Widura sempat menyelamatkannya. Dengan demikian Swandaru menjadi mengerti bahwa dirinya memang tidak akan mampu mengalahkan Tohpati.
Akan tetapi Tohpati tidak bisa membiarkan korban berjatuhan semakin banyak di antara pasukannya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dan akan mencari kesempatan untuk menyerang lagi di lain waktu.
Keesokan paginya Widura membawa Agung Sedayu kembali ke dukuh Pakuwon untuk mencari Untara. Tetapi tenryata mereka berdua tidak menemukan Untara di situ. Rumah Ki Tanu Metir sudah kosong dan nampak tidak terawat. Di halaman terdapat bekas-bekas perkelahian dan jejak-jejak telapak kaki kuda. Dari keterangan seorang penduduk yang terluka parah, ia mengetahui bahwa Alap-Alap Jalatunda dan Plasa Ireng telah datang ke rumah Ki Tanu Metir untuk mencari Agung Sedayu dan Untara yang sedang terluka parah. Namun tidak diketahui di mana Untara dan Ki Tanu Metir berada. Apakah tertangkap oleh gerombolan Plasa Ireng ataukah berhasil meloloskan diri? Kemudian ketika Widura berusaha mengikuti jejak-jejak telapak kaki kuda tersebut, alangkah kagetnya Widura karena jejak itu ternyata menuju ke Sangkal Putung.
Di Sangkal Putung, Sidanti kembali merasa terganggu dengan kedatangan Agung Sedayu. Sekar Mirah, anak perempuan Demang Sangkal Putung rupanya menaruh hati kepada Agung Sedayu. Selama ini Sidanti mengira bahwa antara dia dan Sekar Mirah ada hubungan yang khusus. Ternyata bagi Sekar Mirah, Agung Sedayu jauh lebih menarik dari pada Sidanti. Terbit pikiran di dalam hati Sidanti untuk suatu saat mengukur kemampuan Agung Sedayu dibandingkan dengan dirinya.
Sementara itu Widura yang telah digelisahkan oleh anggapan orang-orang Sangkal Putung yang salah tentang Agung Sedayu, mengajak Agung Sedayu untuk berlatih ilmu kanuragan di gunung Gowok. Harapan orang-orang Sangkal Putung adalah Agung Sedayu akan berhasil mengalahkan Tohpati, karena Untara belum diketemukan. Widura ingin agar Agung Sedayu bersiap-siap jika suatu saat dia memang terpaksa harus dihadapkan dengan Tohpati. Akan tetapi Widura juga tidak menyalahkan Agung Sedayu. Perlakuan ayah ibunya di masa kecilnya telah membentuk Agung Sedayu menjadi priadi yang penakut.
Terbuktilah ketika Widura berlatih olah kanuragan dengan Agung Sedayu bahwa ternyata kemampuannya tidak mengecewakan. Agung Sedayu cukup mampu mengatasi setiap serangannya dan bahkan setelah diminta oleh Widura, Agung Sedayu bisa juga melancarkan serangan-serangan yang cukup berbahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan menulis komentar sopan, santun, kritis dan bermartabat.