Cerita ini didapatkan oleh suami saya pada saat surfing di internet beberapa waktu lalu. Dia menemukan sebuah blog yang dia sudah lupa namanya dan mengkopi artikel ini ke dalam flashdisknya. Karena dianggap bermanfaat untuk disebarluaskan saya mengutipnya kembali di dalam blog pribadi saya.
>>Berikut mungkin pengalaman pribadi saya yang perlu dapat diketahui bersama dan untuk dapat menjadi bahan kewaspadaan kita.
Saat tinggal di asrama yang belum ada dapurnya dan di kamar juga tidak boleh memasak, maka semua pemenuhan kebutuhan dalam hal makan harus diatasi dengan jalan membeli jadi. Pada keadaan tertentu, saya lebih suka memilih membeli makanan untuk dibawa dan dimakan di rumah. Kalau dimakan di tempat, dihitung jatuhnya akan lebih mahal karena harus membeli minuman juga.
Makanan yang dipesan disini, ada warung makan yang sudah siap masak atau ada yang harus memasak terlebih dahulu menyesuaikan dengan pesanan. Untuk warung dengan makanan siap saji, pelayan akan membungkus nasi dan lauk sesuai yang dipesan. Untuk warung dengan makanan yang dimasak dahulu, tentu saja pembeli harus menunggu masakan diolah dulu dan setelah siap lalu dikemas. Tentu saja kalau masakan yang ini terasa lebih fresh karena baru saja dimasak dan masih terasa panas. Tetapi justru masalah panas inilah yang ternyata menyebabkan satu permasalahan baru.
Tiap-tiap warung, cara pengemasan makanannya juga berbeda-beda. Kalau di Indonesia, ada yang menggunakan daun pisang atau kertas minyak. Di negara tetangga sini, lebih banyak menggunakan plastik yang ditaruh di atas kertas koran. Untuk makanan yang berkuah, menggunakan kemasan plastik. Namun ada juga yang menggunakan kemasan styrofoam untuk mengemas makanan.
Seperti diketahui bahwa disini banyak sekali jamuan atau pesta dengan banyak pengunjung. Dalam menjamu tamu tersebut, biasa juga digunakan gelas, piring atau mangkok yang terbuat dari styrofoam. Bahan yang sama juga ada dalam bentuk wadah kotak yang bisa ditutup, sehingga praktis untuk menaruh makanan. Jadi bahan styrofoam ini sangat popular sekali untuk digunakan sehari-hari. Termasuk dalam hal ini, styrofoam juga dipilih oleh beberapa kedai makan sebagai tempat menaruh makanan yang dipesan untuk dibawa pulang.
Saya sering mencoba beberapa tempat makan untuk mencari yang sesuai dengan lidah Jawa saya. Ada satu tempat yang kebetulan memang cocok dan enak masakannya. Tapi kalau ke warung makan tersebut, saya terpaksa harus makan di tempat karena pernah punya pengalaman mengerikan saat pesan makanan untuk dibawa pulang. Hal ini terkait dengan styrofoam juga. Saya membeli nasi goreng dan telur dadar. Setelah siap, saya melihat makanan yang dipesan dan dikemas dalam dua wadah styrofoam. Setelah saya bayar dan dibawa ke rumah, saya terperanjat begitu membuka tas, karena ada cairan yang tumpah. Dalam bayangan saya, tadi mungkin miring, sehingga ada kuah yang tertumpah. Tetapi kemudian ingat kembali bahwa saya hanya memesan nasi goreng dan telur dadar, darimana cairan ini ? Begitu diamati, tampak lebih parah lagi karena ternyata kemasan styrofoam itu berlubang di beberapa bagian karena meleleh. Bahan styrofoam ini ternyata meleleh setelah terkena minyak dari telur dadar yang dimasukkan ke dalamnya pada saat masih panas. Akhirnya karena sudah malam dan lapar tentu saja makanan harus tetap dimakan sebagian saja, yang kira-kira tidak terkena lelehan styrofoam ini.
Iseng lebih lanjut, styrofoam tersebut kalau diperhatikan maka bagian yang meleleh adalah yang memang terkena panas cukup tinggi. Hal ini ditandai pada bagian yang kontak dengan telur dadah. Untuk panas yang tidak cukup tinggi, yaitu pada wadah nasi goreng, ternyta permukaannya juga di beberapa tempat menjadi semacam berlubang dan tidak rata lagi. Hal ini dapat dibayangkan jika telah terjadi lelehan juga walaupun cuma di bagian permukaan saja.
Kemasan styrofoam itu terbuat dari polimer sejenis polystyrene (PS). Kalau di industri, dikenal sebagai plastik dengan kode angka 6. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang terdiri dari komponen monomer styrene. Styren dapat muncul dari styrofoam yang terbakar atau bahkan saat kontak dengan bahan yang masih panas saat terjadi kontak. Dari beberapa kutipan, diketahui bahwa styrene ternyata sangat berbahaya untuk kesehatan otak, dapat mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah kesehatan reproduksi, pertumbuhan dan sistem syaraf (wah bahaya nih, bisa-bisa jadi tidak mampu menulis artikel blog ini dong). Styrene adalah bahan yang relatif susah untuk didaur ulang.
Jadi tentu saja dengan pengalaman di atas, maka kita semua harus selektif untuk memilih kemasan makanan. Baik sebagai pembeli maupun sebagai penjual diperlukan kewaspadaan ini. Kemasan lain yang terbuat dari plastik juga sebenarnya berbahaya juga, walaupun mungkin tidak seperti styrofoam, tetapi juga harus diwaspadai. Kalau masih bisa menggunakan daun pisang maka lebih dianjurkan, Cuma karena kebutuhannya yang akan sangat besar tentu saja juga akan menjadi kendali lagi. Bisa saja pembeli selalu membawa wadah makanan dari rantang logam stainless atau aluminium, atau dapat juga dari jenis plastik yang lebih aman dan kuat panas. Hanya saja seringkali pembeli juga tidak mau direpotkan dengan membawa rantang ini sebelumnya.
Cara yang lebih dianjurkan tentu saja adalah dengan memperhatikan panas makanan yang akan dikemas, mungkin dibiarkan lebih dingin terlebih dahulu dan setelah hangat baru dimasukkan ke wadah. Cara ini merupakan pilihan yang paling mungkin diterapkan bagi warung-warung makan. Hanya saja pembelinya diminta lebih sabar lagi untuk menunggu makanannya jadi lebih dingin sedikit.
Pada akhirnya tentu saja kita sendiri yang harus memilih, bagaimana caranya untuk dapat selalu hidup sehat. Termasuk dalam hal penggunaan styrofoam dalam kehidupan kita sehari-hari.>>
sentra belajar anak anda Melayani les privat, les mengaji, terjemahan dan pengetikan dokumen
Laman
▼
Kamis, 23 Desember 2010
POLIGAMI, DALAM PERSPEKTIF WANITA
Beberapa waktu yang lalu publik dihebohkan dengan berita poligami seorang kyai yang sangat populer di kalangan ibu-ibu.. Sang Kyai dikabarkan menikah lagi dengan seorang janda beranak satu padahal beliau sudah memiliki seorang istri yang setia, baik hati dan sholehah dan empat orang anak-anak yang lucu. Pernikahan kedua Sang Kyai membuat kecewa jama’ah pengajiannya yang didominasi oleh ibu-ibu. Tak ayal lagi ibu-ibu tadi memboikot pengajian Sang Kyai dan tidak mau lagi mengikuti ceramah-ceramah beliau yang terkenal santun, lucu, cerdas, berbobot tapi ringan tersebut.
Lebih parah lagi, kampung islami yang dirintis oleh Sang Kyai lengkap dengan berbagai bidang usaha yang sedang digarapnya, terancam gagal total karena tidak banyak lagi jama’ah yang datang sekedar ingin bertamu, mengaji ilmu ataupun bertemu dengan Sang Kyai dan keluarganya. Kabar terakhir menyebutkan bahwa semua usaha Sang Kyai bangkrut dan terancam gulung tikar.
Media massa terutama infotainment ikut turut andil dalam membesar-besarkan masalah. Akhirnya Kyai yang dulu terkenal dan sanggup menyampaikan dakwah yang mudah diterima oleh semua kalangan, kini tidak dipercaya lagi oleh publik.
Kasus poligami yang lain terjadi di negeri ini. Seorang pengusaha islam yang kaya raya dan memiliki pondok pesantren di Jawa Tengah dikabarkan menikahi seorang gadis yang masih berusia belasan tahun. Nyatanya praktek poligami seperti ini banyak dilakukan oleh kyai-kyai di daerah pedalaman. Tetapi hanya Si Pengusaha ini yang kena getahnya. Padahal dia hanya mempunyai dua istri saja, sementara para kyai tersebut punya lebih dari lima orang istri, sementara syari’at hanya membolehkan maksimal sampai empat orang istri saja.
Masyarakat sekarang cenderung tidak setuju dengan poligami dan bahkan memandang rendah pelaku poligami. Di sisi lain, mereka membiarkan praktek perzinaan dan prostitusi terjadi di negeri ini, bahkan ikut menikmati hasil dari jual-beli tubuh melalui pajak yang rutin didapat oleh pemerintah setiap bulannya. Singkatnya, mereka lebih suka suami mereka “jajan” di warung daripada menikah lagi secara syah dan dihalalkan oleh agama, serta bebas dari penyakit menular seksual yang sekarang ini semakin kompleks.
Para pelaku poligami cenderung beralasan bahwa jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan lelaki. Jadi wajar saja apabila lelaki beristri lebih dari satu, karena mereka ingin memberi kesempatan kepada wanita untuk merasakan kebahagiaan dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi jumlah tersebut bersifat kondisional, tergantung keadaan di negara msing-masing. Misalnya di Cina yang jumlah laki-laki jauh lebih banyak dari wanita, sampai-sampai para pria harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan jodohnya. Tentu saja membutuhkan biaya banyak jika harus ke luar negeri, sehingga pria miskin hanya dapat menggigit jari meratapi nasib, bahkan ada yang berujung bunuh diri.
Hal ini terjadi karena pemerintah Cina, dengan alasan penduduknya terlalu banyak, mengeluarkan kewajiban keluarga berencana-satu keluarga satu anak-bagi warganya. Sementara itu anggapan para warga sendiri bahwa anak perempuan tidak bisa membawa nama keluarga, dan wanita lebih rendah derajatnya dari laki-laki, mendorong mereka untuk berusaha sedapat mungkin melahirkan anak laki-laki, bahkan jika ternyata anak yang dikandung perempuan, mereka menggugurkannya dan atau menjualnya ke luar negeri setelah dilahirkan. Rendahnya jumlah wanita di Cina tidak lantas mendorong dibolehkannya Poliandri-kebalikan dari poligami, satu wanita bersuami banyak pria.
Jika kita menilik sirah Rasulullah saw, kita akan mengetahui makna di balik dibolehkannya poligami oleh Allah swt, yang pertama adalah untuk membatasi jumlah istri para sahabat Rasulullah.
Allah mewahyukan Q.S An Nisaa’ ayat 3 yang berbunyi :
“Wa in khiftum allaa tuqsithuu fil yataamaa fankihuu maa thoobalakum minan nisaai matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa’a. fa in khiftum allaa ta’diluu fawaahidatan”
Artinya : “Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah (perempuan-perempuan lain) yang kamu sukai, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja”
Dahulu sebelum turun ayat tersebut di atas para sahabat Rasulullah saw mempunyai banyak istri sehingga istri dan anak-anak mereka tidak tercukupi kebutuhannya baik kebutuhan materi maupun kasih sayang. Ayat ini diturunkan untuk membatasi jumlah istri-istri para sahabat dan umat yang lahir setelah mereka agar tercipta kemakmuran, keadilan dan ketentraman di kalangan umat Islam.
Semua poligami yang dilakukan oleh Rasulullah saw bukan untuk mengumbar nafsu, tetapi ada tujuan mulia dibalik itu, antara lain:
A. Untuk dakwah Islam
Pada jaman Rasulullah dahulu, masyarakat Arab terkotak-kotak oleh kabilah-kabilah. Anggota kabilah sangat tergantung oleh pemimpinnya dalam bertindak dan menentukan nasib mereka di tangan pemimpin kabilah. Oleh karena itu Rasulullah menikahi 3 orang istri beliau yang merupakan putri dari para pemimpin kabilah dengan tujuan agar pemimpin kabilah tersebut memeluk agama Islam sehingga diikuti oleh para anggota kabilah. 3 orang istri beliau tersebut antara lain :
1. Shafiyyah binti Huyay, putri dari pemimpin kabilah Yahudi
2. Juwairiyah binti Al-Harits, putri dari Bani Musthaliq
3. Putri Abu Sufyan, penentang terbesar dakwah Rasulullah saw
B. Untuk menyantuni janda-janda tua dan anak yatim
Setelah Khadijah ra wafat, Rasulullah belum memikirkan untuk mencari pendamping beliau. Akhirnya seorang sahabat menyarankan beliau untuk menikahi Saudah, seorang janda yang sudah tua umurnya, agar bisa merawat dan mendampingi Rasulullah saw selama berdakwah.
C. Menghormati perjuangan dalam menegakkan agama Islam
Rasulullah menikahi Ummu Salamah sebagai penghargaan karena beliau adalah perempuan pertama yang hijrah ke Habasyah. Diriwayatkan bahwa setelah dakwah islam mulai meluas, kaum kafir Quraisy di Mekkah tidak suka terhadap perkembangan islam. Mereka mulai melakukan penyiksaan terhadap para pengikut Rasulullah saw. Oleh karena itu Rasulullah memerintahkan untuk berhijrah ke Habasyah untuk menghindari penyiksaan, agar umat Islam tetap kuat imannya dan Ummu Salamah termasuk dalam kelompok orang yang berhijrah tersebut.
D. Meredefinisikan kembali status anak angkat
Rasulullah mempunyai seorang anak angkat bernama Zaid bin Haritsah yang dinikahkan oleh beliau dengan saudara sepupu beliau yaitu Zainab binti Jahsyi. Zaid adalah seorang bekas budak belian yang berkulit hitam dan Zainab adalah seorang putri bangsawan yang cantik jelita. Zainab tidak ikhlas dengan pernikahan tersebut karena dia tidak menemukan hal yang bisa membuatnya mencintai Zaid sehingga dia bias tulus mengabdi kepada suaminya. Kemudian Zaid menceraikan Zainab. Setelah itu turun perintah Allah swt agar Rasulullah menikahi Zainab dengan tujuan agar masyarakat di kala itu tidak menyamakan anak angkat dengan anak kandung. Bahwa seseorang diperbolehkan menikahi mantan istri anak angkat tetapi tidak boleh menikahi mantan istri anak kandung.
E. Mempererat hubungan dengan para sahabat
Ada empat orang sahabat Rasulullah yang sangat mencintai beliau dan sangat beliau cintai. Mereka adalah Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam rangka mempererat tali persaudaraan dengan mereka Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar bin Khattab, serta menikahkan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dengan putri beliau Ruqayyah dan Fatimah.
Di antara para istri Rasulullah saw, hanya Aisyah binti Abu Bakar yang dinikahi beliau dalam keadaan masih perawan. Hal ini menjelaskan bahwa Rasulullah bukanlah maniak seks, tetapi beliau mempunyai tujuan mulia dibalik semua pernikahan yang beliau lakukan, yang sulit diteladani oleh para pelaku poligami di masa sekarang ini.
Mengingat bahwa poligami bisa menjadi solusi atas perzinaan dan prostitusi yang marak di negeri ini, tidak ada salahnya untuk berpoligami asalkan memenuhi syarat berikut ini :
1. Atas sepengetahuan istri pertama
2. Adil baik terhadap anak maupun istri. Adil di sini tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan materi saja, tetapi juga harus membagi cinta dan kasih yang adil terhadap istri-istri dan anak-anak yang dilahirkan. Ini adalah syarat yang sulit karena sangat sedikit manusia yang bisa berlaku adil.
3. Tidak bertujuan untuk menyengsarakan baik istri pertama maupun istri selanjutnya. Pernikahan yang dilakukan tidak bertujuan untuk menyengsarakan wanita-wanita yang dinikahinya. Wanita-wanita tersebut harus ridho dan ikhlas baik menjadi istri pertama, kedua, ketiga ataupun keempat. Tidak ada pemaksaan kehendak dan tidak ada perlakuan yang berat sebelah maupun yang tidak manusiawi.
4. Jika istri mandul dan tidak bisa memberikan keturunan ataupun tidak bisa melayani suami karena faktor usia ataupun penyakit. Dalam hal ini justru menjadi kewajiban istri untuk mencarikan istri lain bagi suaminya. Karena jika dia tidak melakukannya dia akan menanggung dosa karena menghalang-halangi seseorang untuk mendapatkan keturunan dan menanggung dosa sebab bisa saja suami tidak tahan dan menyalurkan hasrat biologisnya kepada wanita yang belum menjadi istrinya.
Lebih parah lagi, kampung islami yang dirintis oleh Sang Kyai lengkap dengan berbagai bidang usaha yang sedang digarapnya, terancam gagal total karena tidak banyak lagi jama’ah yang datang sekedar ingin bertamu, mengaji ilmu ataupun bertemu dengan Sang Kyai dan keluarganya. Kabar terakhir menyebutkan bahwa semua usaha Sang Kyai bangkrut dan terancam gulung tikar.
Media massa terutama infotainment ikut turut andil dalam membesar-besarkan masalah. Akhirnya Kyai yang dulu terkenal dan sanggup menyampaikan dakwah yang mudah diterima oleh semua kalangan, kini tidak dipercaya lagi oleh publik.
Kasus poligami yang lain terjadi di negeri ini. Seorang pengusaha islam yang kaya raya dan memiliki pondok pesantren di Jawa Tengah dikabarkan menikahi seorang gadis yang masih berusia belasan tahun. Nyatanya praktek poligami seperti ini banyak dilakukan oleh kyai-kyai di daerah pedalaman. Tetapi hanya Si Pengusaha ini yang kena getahnya. Padahal dia hanya mempunyai dua istri saja, sementara para kyai tersebut punya lebih dari lima orang istri, sementara syari’at hanya membolehkan maksimal sampai empat orang istri saja.
Masyarakat sekarang cenderung tidak setuju dengan poligami dan bahkan memandang rendah pelaku poligami. Di sisi lain, mereka membiarkan praktek perzinaan dan prostitusi terjadi di negeri ini, bahkan ikut menikmati hasil dari jual-beli tubuh melalui pajak yang rutin didapat oleh pemerintah setiap bulannya. Singkatnya, mereka lebih suka suami mereka “jajan” di warung daripada menikah lagi secara syah dan dihalalkan oleh agama, serta bebas dari penyakit menular seksual yang sekarang ini semakin kompleks.
Para pelaku poligami cenderung beralasan bahwa jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan lelaki. Jadi wajar saja apabila lelaki beristri lebih dari satu, karena mereka ingin memberi kesempatan kepada wanita untuk merasakan kebahagiaan dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi jumlah tersebut bersifat kondisional, tergantung keadaan di negara msing-masing. Misalnya di Cina yang jumlah laki-laki jauh lebih banyak dari wanita, sampai-sampai para pria harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan jodohnya. Tentu saja membutuhkan biaya banyak jika harus ke luar negeri, sehingga pria miskin hanya dapat menggigit jari meratapi nasib, bahkan ada yang berujung bunuh diri.
Hal ini terjadi karena pemerintah Cina, dengan alasan penduduknya terlalu banyak, mengeluarkan kewajiban keluarga berencana-satu keluarga satu anak-bagi warganya. Sementara itu anggapan para warga sendiri bahwa anak perempuan tidak bisa membawa nama keluarga, dan wanita lebih rendah derajatnya dari laki-laki, mendorong mereka untuk berusaha sedapat mungkin melahirkan anak laki-laki, bahkan jika ternyata anak yang dikandung perempuan, mereka menggugurkannya dan atau menjualnya ke luar negeri setelah dilahirkan. Rendahnya jumlah wanita di Cina tidak lantas mendorong dibolehkannya Poliandri-kebalikan dari poligami, satu wanita bersuami banyak pria.
Jika kita menilik sirah Rasulullah saw, kita akan mengetahui makna di balik dibolehkannya poligami oleh Allah swt, yang pertama adalah untuk membatasi jumlah istri para sahabat Rasulullah.
Allah mewahyukan Q.S An Nisaa’ ayat 3 yang berbunyi :
“Wa in khiftum allaa tuqsithuu fil yataamaa fankihuu maa thoobalakum minan nisaai matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa’a. fa in khiftum allaa ta’diluu fawaahidatan”
Artinya : “Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah (perempuan-perempuan lain) yang kamu sukai, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja”
Dahulu sebelum turun ayat tersebut di atas para sahabat Rasulullah saw mempunyai banyak istri sehingga istri dan anak-anak mereka tidak tercukupi kebutuhannya baik kebutuhan materi maupun kasih sayang. Ayat ini diturunkan untuk membatasi jumlah istri-istri para sahabat dan umat yang lahir setelah mereka agar tercipta kemakmuran, keadilan dan ketentraman di kalangan umat Islam.
Semua poligami yang dilakukan oleh Rasulullah saw bukan untuk mengumbar nafsu, tetapi ada tujuan mulia dibalik itu, antara lain:
A. Untuk dakwah Islam
Pada jaman Rasulullah dahulu, masyarakat Arab terkotak-kotak oleh kabilah-kabilah. Anggota kabilah sangat tergantung oleh pemimpinnya dalam bertindak dan menentukan nasib mereka di tangan pemimpin kabilah. Oleh karena itu Rasulullah menikahi 3 orang istri beliau yang merupakan putri dari para pemimpin kabilah dengan tujuan agar pemimpin kabilah tersebut memeluk agama Islam sehingga diikuti oleh para anggota kabilah. 3 orang istri beliau tersebut antara lain :
1. Shafiyyah binti Huyay, putri dari pemimpin kabilah Yahudi
2. Juwairiyah binti Al-Harits, putri dari Bani Musthaliq
3. Putri Abu Sufyan, penentang terbesar dakwah Rasulullah saw
B. Untuk menyantuni janda-janda tua dan anak yatim
Setelah Khadijah ra wafat, Rasulullah belum memikirkan untuk mencari pendamping beliau. Akhirnya seorang sahabat menyarankan beliau untuk menikahi Saudah, seorang janda yang sudah tua umurnya, agar bisa merawat dan mendampingi Rasulullah saw selama berdakwah.
C. Menghormati perjuangan dalam menegakkan agama Islam
Rasulullah menikahi Ummu Salamah sebagai penghargaan karena beliau adalah perempuan pertama yang hijrah ke Habasyah. Diriwayatkan bahwa setelah dakwah islam mulai meluas, kaum kafir Quraisy di Mekkah tidak suka terhadap perkembangan islam. Mereka mulai melakukan penyiksaan terhadap para pengikut Rasulullah saw. Oleh karena itu Rasulullah memerintahkan untuk berhijrah ke Habasyah untuk menghindari penyiksaan, agar umat Islam tetap kuat imannya dan Ummu Salamah termasuk dalam kelompok orang yang berhijrah tersebut.
D. Meredefinisikan kembali status anak angkat
Rasulullah mempunyai seorang anak angkat bernama Zaid bin Haritsah yang dinikahkan oleh beliau dengan saudara sepupu beliau yaitu Zainab binti Jahsyi. Zaid adalah seorang bekas budak belian yang berkulit hitam dan Zainab adalah seorang putri bangsawan yang cantik jelita. Zainab tidak ikhlas dengan pernikahan tersebut karena dia tidak menemukan hal yang bisa membuatnya mencintai Zaid sehingga dia bias tulus mengabdi kepada suaminya. Kemudian Zaid menceraikan Zainab. Setelah itu turun perintah Allah swt agar Rasulullah menikahi Zainab dengan tujuan agar masyarakat di kala itu tidak menyamakan anak angkat dengan anak kandung. Bahwa seseorang diperbolehkan menikahi mantan istri anak angkat tetapi tidak boleh menikahi mantan istri anak kandung.
E. Mempererat hubungan dengan para sahabat
Ada empat orang sahabat Rasulullah yang sangat mencintai beliau dan sangat beliau cintai. Mereka adalah Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam rangka mempererat tali persaudaraan dengan mereka Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar bin Khattab, serta menikahkan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dengan putri beliau Ruqayyah dan Fatimah.
Di antara para istri Rasulullah saw, hanya Aisyah binti Abu Bakar yang dinikahi beliau dalam keadaan masih perawan. Hal ini menjelaskan bahwa Rasulullah bukanlah maniak seks, tetapi beliau mempunyai tujuan mulia dibalik semua pernikahan yang beliau lakukan, yang sulit diteladani oleh para pelaku poligami di masa sekarang ini.
Mengingat bahwa poligami bisa menjadi solusi atas perzinaan dan prostitusi yang marak di negeri ini, tidak ada salahnya untuk berpoligami asalkan memenuhi syarat berikut ini :
1. Atas sepengetahuan istri pertama
2. Adil baik terhadap anak maupun istri. Adil di sini tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan materi saja, tetapi juga harus membagi cinta dan kasih yang adil terhadap istri-istri dan anak-anak yang dilahirkan. Ini adalah syarat yang sulit karena sangat sedikit manusia yang bisa berlaku adil.
3. Tidak bertujuan untuk menyengsarakan baik istri pertama maupun istri selanjutnya. Pernikahan yang dilakukan tidak bertujuan untuk menyengsarakan wanita-wanita yang dinikahinya. Wanita-wanita tersebut harus ridho dan ikhlas baik menjadi istri pertama, kedua, ketiga ataupun keempat. Tidak ada pemaksaan kehendak dan tidak ada perlakuan yang berat sebelah maupun yang tidak manusiawi.
4. Jika istri mandul dan tidak bisa memberikan keturunan ataupun tidak bisa melayani suami karena faktor usia ataupun penyakit. Dalam hal ini justru menjadi kewajiban istri untuk mencarikan istri lain bagi suaminya. Karena jika dia tidak melakukannya dia akan menanggung dosa karena menghalang-halangi seseorang untuk mendapatkan keturunan dan menanggung dosa sebab bisa saja suami tidak tahan dan menyalurkan hasrat biologisnya kepada wanita yang belum menjadi istrinya.
Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya
Khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
Berapa banyak rumah tangga yang masuk padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya!!?
Ingatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya yang bergadang dan memelihara pria yang sekarang menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia atas kesungguhannya dan hargailah apa yang telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan memeliharamu. Maka adakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan?!
Berapa banyak rumah tangga yang masuk padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya!!?
Ingatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya yang bergadang dan memelihara pria yang sekarang menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia atas kesungguhannya dan hargailah apa yang telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan memeliharamu. Maka adakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan?!
Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah
Seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya. Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.
Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu (mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang sangat di gunung hingga hampir-hampir tenggorokanku terbakar.
Maka aku persiapkan untuknya air yang dingin hingga ia dapat meminumnya jika ia datang. Aku menata dan merapikan barang-barangku (perabot rumah tangga) dan aku persiapkan hidangan makan untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya dengan mengenakan pakaianku yang paling bagus.
Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku menyambutnya sebagaimana pengantin menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia ingin beristirahat maka aku membantunya dan jika ia menginginkan diriku aku pun berada di antara kedua tangannya seperti anak perempuan kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”
Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu (mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang sangat di gunung hingga hampir-hampir tenggorokanku terbakar.
Maka aku persiapkan untuknya air yang dingin hingga ia dapat meminumnya jika ia datang. Aku menata dan merapikan barang-barangku (perabot rumah tangga) dan aku persiapkan hidangan makan untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya dengan mengenakan pakaianku yang paling bagus.
Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku menyambutnya sebagaimana pengantin menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia ingin beristirahat maka aku membantunya dan jika ia menginginkan diriku aku pun berada di antara kedua tangannya seperti anak perempuan kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”
Jumat, 10 Desember 2010
Wasiat Keempat - Bersikap qana’ah (merasa cukup)
Kami menginginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu.
Dalam riwayat disebutkan : “Wanita yang paling besar barakahnya.”
Wahai siapa gerangan wanita itu?!
Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta menuruti selera syahwatnya dan mengenyangkan keinginannya?
Ataukah dia yang biasa mengenakan pakaian termahal walau suaminya harus berhutang kepada teman-temannya untuk membayar harganya?!
Sekali-kali tidak… demi Allah, namun (mereka adalah): “Wanita yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan maharnya.” (Hadits Dhåif Riwayat Hakim)[10]
Renungkanlah wahai saudariku muslimah adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami:
“Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa sabar dari api neraka…”
Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu jawabannya dari pada diriku.
Dalam riwayat disebutkan : “Wanita yang paling besar barakahnya.”
Wahai siapa gerangan wanita itu?!
Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta menuruti selera syahwatnya dan mengenyangkan keinginannya?
Ataukah dia yang biasa mengenakan pakaian termahal walau suaminya harus berhutang kepada teman-temannya untuk membayar harganya?!
Sekali-kali tidak… demi Allah, namun (mereka adalah): “Wanita yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan maharnya.” (Hadits Dhåif Riwayat Hakim)[10]
Renungkanlah wahai saudariku muslimah adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami:
“Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa sabar dari api neraka…”
Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu jawabannya dari pada diriku.
Rabu, 08 Desember 2010
Sepuluh Wasiat Untuk Wanita - Wasiat Ketiga
Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya.
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali.”
Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata dalam memberi nasehat kepada para wanita: “Wahai sekalian wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya.”
Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah. Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita bagaimanakah yang terbaik?”
Beliau menjawab:“Yang menyenangkan suami ketika dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya.
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali.”
Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata dalam memberi nasehat kepada para wanita: “Wahai sekalian wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya.”
Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah. Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita bagaimanakah yang terbaik?”
Beliau menjawab:“Yang menyenangkan suami ketika dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”
Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Setiap ibu pasti mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna. Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat. Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangannya.
Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha menyikapi “kesulitan-kesulitan yang dialaminya.
Akan tetapi keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.
Ada beberapa kesalahan yang sering ibu lakukan ketika memotivasi anak, yaitu :
1. Membuat Anak Merasa Bersalah
Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri dan tidak mempunyai rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerjanya.
Motivasi yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya ketika ibu mengatakan : “ Kamu sayang sama Mama, nggak? Kalau sayang sama Mama, kamu harus belajar yang baik. Mama tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Mama, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat rangking satu. Lihat itu, Papa tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit. Makanya kamu harus pintar.”
2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai
Ketika anak Anda pulang ke rumah dan menunjukkan hasil ulangannya kepada Anda, lalu Anda menanggapi begini: “ Aduh, Nak. Masak pelajaran begini saja kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah. Coba lihat itu kakakmu. Dia pintar, nggak seperti kamu.”
Jika hal ini terjadi, pasti dia akan kecewa. Menurutnya dia sudah berusaha keras dan dia juga sudah mendapatkan nilai yang lebih baik dari biasanya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai. Bukan hanya itu, mental anak juga bisa sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bukan itu saja, anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga akhirnya ia mendapati dirinya benar-benar bodoh di sekolah.
Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehingga ia akan lebih bersemangat untuk mencapai prestasi yang lebih baik di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.
Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji. Jika tidak anak akan merasa bosan belajar sehingga dia tidak bisa berprestasi lagi.
3. Menghancurkan Harga Diri Anak
Anda pasti sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan. Kalau saja anda merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orang tua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.
Sikap menceritakan keburukan dan kejelekan anak kepada orang lain ini dapat menjadikan anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan. Pada saat itu ia telah berhasil melampiaskan kejengkelan terhadap orangtua.
4. Membuat Anak Defensif
Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap defensif, tidak mau menuruti kemauan orang lain. Jika sangat terpaksa, ia baru akan menurut. Tetapi hanya agar tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.
Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo sekarang belajar.”
5. Mendorong Anak Balas Dendam
Ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk membalas dendam. Misalnya sikap keras dan memaksakan kehendak kepada anak. Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.
Seorang ibu bisa mengajukan alternatif hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian.
Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang kuat. Hal ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun anak jauh dari orangtua.
Selamat Mencoba………….
Setiap ibu pasti mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna. Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat. Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangannya.
Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha menyikapi “kesulitan-kesulitan yang dialaminya.
Akan tetapi keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.
Ada beberapa kesalahan yang sering ibu lakukan ketika memotivasi anak, yaitu :
1. Membuat Anak Merasa Bersalah
Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri dan tidak mempunyai rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerjanya.
Motivasi yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya ketika ibu mengatakan : “ Kamu sayang sama Mama, nggak? Kalau sayang sama Mama, kamu harus belajar yang baik. Mama tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Mama, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat rangking satu. Lihat itu, Papa tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit. Makanya kamu harus pintar.”
2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai
Ketika anak Anda pulang ke rumah dan menunjukkan hasil ulangannya kepada Anda, lalu Anda menanggapi begini: “ Aduh, Nak. Masak pelajaran begini saja kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah. Coba lihat itu kakakmu. Dia pintar, nggak seperti kamu.”
Jika hal ini terjadi, pasti dia akan kecewa. Menurutnya dia sudah berusaha keras dan dia juga sudah mendapatkan nilai yang lebih baik dari biasanya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai. Bukan hanya itu, mental anak juga bisa sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bukan itu saja, anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga akhirnya ia mendapati dirinya benar-benar bodoh di sekolah.
Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehingga ia akan lebih bersemangat untuk mencapai prestasi yang lebih baik di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.
Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji. Jika tidak anak akan merasa bosan belajar sehingga dia tidak bisa berprestasi lagi.
3. Menghancurkan Harga Diri Anak
Anda pasti sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan. Kalau saja anda merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orang tua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.
Sikap menceritakan keburukan dan kejelekan anak kepada orang lain ini dapat menjadikan anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan. Pada saat itu ia telah berhasil melampiaskan kejengkelan terhadap orangtua.
4. Membuat Anak Defensif
Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap defensif, tidak mau menuruti kemauan orang lain. Jika sangat terpaksa, ia baru akan menurut. Tetapi hanya agar tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.
Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo sekarang belajar.”
5. Mendorong Anak Balas Dendam
Ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk membalas dendam. Misalnya sikap keras dan memaksakan kehendak kepada anak. Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.
Seorang ibu bisa mengajukan alternatif hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian.
Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang kuat. Hal ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun anak jauh dari orangtua.
Selamat Mencoba………….
Sabtu, 04 Desember 2010
"Cerita Tentang Film Three Idiots"
Seorang anak pembantu yang jenius berhasil masuk kuliah di ICE, sebuah universitas teknik yang sangat terkenal di India. Bukan saja universitas ini termasuk universitas favorit, lulusannya juga berpredikat sebagai lulusan terbaik di seantero negeri, tetapi juga sangat susah untuk kuliah di universitas ini. Banyak pelamar yang setiap tahun datang, tetapi hanya segelintir orang saja yang berhasil.
Tidak terkecuali si anak pembantu jenius ini, dia berhasil menyingkirkan ratusan pelamar sehingga dia bisa kuliah di universitas yang sangat didambakannya. Bagaimana si anak pembantu jenius ini-Ranchordas Syamaldas Chanchad namanya-bisa membiayai kuliah di ICE? Seperti yang kita tahu, sekolah favorit pastilah sekolah yang mahal. Ternyata dia dikuliahkan oleh majikannya. Yang lebih mengejutkan, ternyata nama aslinya bukanlah Ranchordas Syamaldas Chancad, tetapi Punsukh Wangdu.
Ya, dia memakai nama anak majikannya karena majikannya lah yang memintanya untuk kuliah atas nama anaknya itu. Majikannya beralasan bahwa dia ingin salah satu keturunannya ada yang bisa baca tulis, bahkan dia ingin bisa kuliah di universitas ternama seperti ICE itu. Jadilah Punsukh Wangdu kuliah di universitas kebanggaan orang India.
Anehnya Punsukh Wangdu tidak seperti orang lain. Dia hanya ingin kuliah bukan untuk mengejar gelar, akan tetapi dia ingin pandai. Hal ini yang jarang didapati di lingkungan kita. Siapa sih orangnya yang tidak ingin berpendidikan tinggi? Sebab pendidikan tinggi menjanjikan pekerjaan yang layak. Tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan lulusan SD meskipun orang itu sangat pandai, bukan?
Pada akhirnya Punsukh Wangdu berhasil menjadi ilmuwan ternama yang memiliki 400 lebih hak paten, walaupun dia tidak memiliki gelar apapun.
Film yang memberi inspirasi ini layak ditonton baik oleh pengajar maupun orang tua yang sangat ingin anaknya menjadi pandai. Film ini bisa mereformasi habis-habisan cara kita belajar dan mengajar. Kabarnya film ini bertahan sampai 5 bulan di bioskop-bioskop di Jakarta. Sebuah prestasi yang membanggakan bagi sebuah film yang sarat dengan pesan pendidikan.
SELAMAT MENONTON!!!
Tidak terkecuali si anak pembantu jenius ini, dia berhasil menyingkirkan ratusan pelamar sehingga dia bisa kuliah di universitas yang sangat didambakannya. Bagaimana si anak pembantu jenius ini-Ranchordas Syamaldas Chanchad namanya-bisa membiayai kuliah di ICE? Seperti yang kita tahu, sekolah favorit pastilah sekolah yang mahal. Ternyata dia dikuliahkan oleh majikannya. Yang lebih mengejutkan, ternyata nama aslinya bukanlah Ranchordas Syamaldas Chancad, tetapi Punsukh Wangdu.
Ya, dia memakai nama anak majikannya karena majikannya lah yang memintanya untuk kuliah atas nama anaknya itu. Majikannya beralasan bahwa dia ingin salah satu keturunannya ada yang bisa baca tulis, bahkan dia ingin bisa kuliah di universitas ternama seperti ICE itu. Jadilah Punsukh Wangdu kuliah di universitas kebanggaan orang India.
Anehnya Punsukh Wangdu tidak seperti orang lain. Dia hanya ingin kuliah bukan untuk mengejar gelar, akan tetapi dia ingin pandai. Hal ini yang jarang didapati di lingkungan kita. Siapa sih orangnya yang tidak ingin berpendidikan tinggi? Sebab pendidikan tinggi menjanjikan pekerjaan yang layak. Tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan lulusan SD meskipun orang itu sangat pandai, bukan?
Pada akhirnya Punsukh Wangdu berhasil menjadi ilmuwan ternama yang memiliki 400 lebih hak paten, walaupun dia tidak memiliki gelar apapun.
Film yang memberi inspirasi ini layak ditonton baik oleh pengajar maupun orang tua yang sangat ingin anaknya menjadi pandai. Film ini bisa mereformasi habis-habisan cara kita belajar dan mengajar. Kabarnya film ini bertahan sampai 5 bulan di bioskop-bioskop di Jakarta. Sebuah prestasi yang membanggakan bagi sebuah film yang sarat dengan pesan pendidikan.
SELAMAT MENONTON!!!
Jumat, 26 November 2010
10 WASIAT UNTUK WANITA (lanjutan)
Beberapa waktu yang lalu telah saya terangkan Wasiat pertama. pada kesempatan ini saya terangkan Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami
Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?!”
Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’
Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’
Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’
Istri(ku) berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’
Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung).
Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’
Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku.
Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”
Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”
Alangkah bahagia kehidupannya…!
Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya?
Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?!”
Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’
Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’
Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’
Istri(ku) berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’
Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung).
Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’
Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku.
Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”
Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”
Alangkah bahagia kehidupannya…!
Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya?
Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
MA-L-LU ( baca : malu ) SAYA
Ma-l-lu saya pada diri saya sendiri. Ma-l-lu saya pada semua orang.
Kedatangan presiden Amerika Serikat Barrack Obama dan istrinya Michelle Obama beberapa waktu lalu menarik perhatian semua kalangan. Mulai rakyat jelata sampai para konglomerat, mulai artis sampai pejabat. Semua mata tertuju kepada kedatangan Obama di Indonesia yang sudah beberapa kali diundur tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, hampir semua media televisi meliput langsung kedatangan Obama. Dari bandara sampai Istana Negara, sampai ke Masjid Istiqlal dan sampai pulang kembali ke negaranya. Berita tentang bencana yang sedang terjadi di Merapi – yang sebelum kedatangan Obama insan media tidak henti-henti meliput – terpaksa terhenti sejenak. Sempat terpikir dalam benak saya, kenapa Mr. Obama tidak pergi ke penampungan para pengungsi Merapi saja. Pastinya para pengungsi di sana jauh lebih terhibur dengan kedatangan orang nomor satu negara adikuasa tersebut, ketimbang hanya berputar-putar di Jakarta saja.
Hal yang mengejutkan terjadi. Seorang pentolan sebuah partai Islam, partai yang mengklaim diri partai yang bersih, jujur dan anti korupsi, yang berniat menjadikan hukum Islam menjadi hukum positif (setidaknya begitu yang saya kira), yang telah menjadi menteri di Kabinet Bersatu jilid 2 sekarang ini, mau bersalaman dengan Michelle Obama!! Ma-l-lu saya!!!
Konyolnya dia mengaku di twitternya bahwa tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Michelle Obama. Di mana dia taruh hukum Islam? Di mana dia sematkan teladan dari Rasulullah saw yang tidak pernah mau bersalaman dengan kaum wanita? Yang dilakukan oleh Rasulullah semata untuk menjaga kehormatan wanita itu sendiri?? Ma-l-lu saya !!
Terus terang saya sedang kecewa berat. Betapa tidak? Partai yang dahulu saya gadang-gadang akan berhasil menegakkan hukum Islam di bumi Indonesia tercinta ini sudah jauh melenceng dari jalur. Mereka ternyata tidak bisa melawan arus politik yang mengitari mereka, tetapi mereka malahan terbawa arus yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan saya dengar di beberapa daerah ada kader partai yang melakukan korupsi! Astaghfirullah.... Ma-l-lu saya !!
Tidak pernah terdengar di telinga wakil-wakil mereka di DPR RI memperjuangkan umat Islam, memperjuangkan agar pemerintah membubarkan Ahmadiyah pun tidak. Ketika rakyat Yogyakarta dan Jawa Tengah berkutat dengan penderitaan di pengungsian, mereka malah asyik jalan-jalan ke luar negeri sementara wakil dari partai yang lain justru urung. Mereka mungkin bisa beralasan sudah ada yang mengurusi para pengungsi. Akan tetapi di manakah rasa empati sebagai sesama muslim? Ma-l-lu saya !!
Dahulu saya sering membujuk ibu dan kakak-kakak saya agar memilih partai ini. Sekarang bahkan saya bingung, jika ada pemilu partai mana yang akan saya pilih? Saya sebagai mutarobbi (murid) sering merasa aneh ketika para Murobbi (guru) dari partai ini, mulai kehilangan disiplin dan izzahnya. Saya merasa ketika mengaji di kota tempat tinggal saya sekarang ini sangat berbeda dengan ketika saya mengaji di Semarang dahulu, tempat saya pertama kali mendapatkan hidayah dan bersentuhan dengan kader-kader partai ini. Para Murobbi ini lama-kelamaan menyusutkan (baca:mengecilkan) kerudungnya. Mungkin agar bisa mendapat massa yang banyak, biar tidak dicap eksklusif, bahkan mungkin mereka takut dikatakan bahwa mereka ingin mengusung hukum Islam? Ma-l-lu saya !! Yang jelas lama-lama saya merasa tidak sreg dan akhirnya cabut.
Memang dulu ada teman saya yang mengatakan pada saya bahwa dia pesimis partai ini bisa melakukan perubahan yang diharapkan. Tetapi saya terus saja karena saya yakin partai ini bisa melakukannya. Ternyata teman saya benar. Saya berdo’a semoga Allah saw mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Semoga.
Kedatangan presiden Amerika Serikat Barrack Obama dan istrinya Michelle Obama beberapa waktu lalu menarik perhatian semua kalangan. Mulai rakyat jelata sampai para konglomerat, mulai artis sampai pejabat. Semua mata tertuju kepada kedatangan Obama di Indonesia yang sudah beberapa kali diundur tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, hampir semua media televisi meliput langsung kedatangan Obama. Dari bandara sampai Istana Negara, sampai ke Masjid Istiqlal dan sampai pulang kembali ke negaranya. Berita tentang bencana yang sedang terjadi di Merapi – yang sebelum kedatangan Obama insan media tidak henti-henti meliput – terpaksa terhenti sejenak. Sempat terpikir dalam benak saya, kenapa Mr. Obama tidak pergi ke penampungan para pengungsi Merapi saja. Pastinya para pengungsi di sana jauh lebih terhibur dengan kedatangan orang nomor satu negara adikuasa tersebut, ketimbang hanya berputar-putar di Jakarta saja.
Hal yang mengejutkan terjadi. Seorang pentolan sebuah partai Islam, partai yang mengklaim diri partai yang bersih, jujur dan anti korupsi, yang berniat menjadikan hukum Islam menjadi hukum positif (setidaknya begitu yang saya kira), yang telah menjadi menteri di Kabinet Bersatu jilid 2 sekarang ini, mau bersalaman dengan Michelle Obama!! Ma-l-lu saya!!!
Konyolnya dia mengaku di twitternya bahwa tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Michelle Obama. Di mana dia taruh hukum Islam? Di mana dia sematkan teladan dari Rasulullah saw yang tidak pernah mau bersalaman dengan kaum wanita? Yang dilakukan oleh Rasulullah semata untuk menjaga kehormatan wanita itu sendiri?? Ma-l-lu saya !!
Terus terang saya sedang kecewa berat. Betapa tidak? Partai yang dahulu saya gadang-gadang akan berhasil menegakkan hukum Islam di bumi Indonesia tercinta ini sudah jauh melenceng dari jalur. Mereka ternyata tidak bisa melawan arus politik yang mengitari mereka, tetapi mereka malahan terbawa arus yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan saya dengar di beberapa daerah ada kader partai yang melakukan korupsi! Astaghfirullah.... Ma-l-lu saya !!
Tidak pernah terdengar di telinga wakil-wakil mereka di DPR RI memperjuangkan umat Islam, memperjuangkan agar pemerintah membubarkan Ahmadiyah pun tidak. Ketika rakyat Yogyakarta dan Jawa Tengah berkutat dengan penderitaan di pengungsian, mereka malah asyik jalan-jalan ke luar negeri sementara wakil dari partai yang lain justru urung. Mereka mungkin bisa beralasan sudah ada yang mengurusi para pengungsi. Akan tetapi di manakah rasa empati sebagai sesama muslim? Ma-l-lu saya !!
Dahulu saya sering membujuk ibu dan kakak-kakak saya agar memilih partai ini. Sekarang bahkan saya bingung, jika ada pemilu partai mana yang akan saya pilih? Saya sebagai mutarobbi (murid) sering merasa aneh ketika para Murobbi (guru) dari partai ini, mulai kehilangan disiplin dan izzahnya. Saya merasa ketika mengaji di kota tempat tinggal saya sekarang ini sangat berbeda dengan ketika saya mengaji di Semarang dahulu, tempat saya pertama kali mendapatkan hidayah dan bersentuhan dengan kader-kader partai ini. Para Murobbi ini lama-kelamaan menyusutkan (baca:mengecilkan) kerudungnya. Mungkin agar bisa mendapat massa yang banyak, biar tidak dicap eksklusif, bahkan mungkin mereka takut dikatakan bahwa mereka ingin mengusung hukum Islam? Ma-l-lu saya !! Yang jelas lama-lama saya merasa tidak sreg dan akhirnya cabut.
Memang dulu ada teman saya yang mengatakan pada saya bahwa dia pesimis partai ini bisa melakukan perubahan yang diharapkan. Tetapi saya terus saja karena saya yakin partai ini bisa melakukannya. Ternyata teman saya benar. Saya berdo’a semoga Allah saw mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Semoga.
Senin, 22 November 2010
10 WASIAT UNTUK WANITA
Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang dan tempat nan aman yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan kelembutan.
Wasiat Pertama:: Bertakwa kepada Allah dan menjauhi maksiat
Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami
Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik
Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa cukup)
Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah
Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya
Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.
Wasiat kedelapan: Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya.
Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).
Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.
Wasiat-wasiat tersebut akan saya terangkan satu persatu
Wasiat Pertama:: Bertakwa kepada Allah dan menjauhi maksiat
Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti seorang wanita yang telah bermaksiat kepada Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami…”
Wahai hamba Allah…
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu dan menjaga untukmu suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…”
Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:
1.Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya (tanpa alasan yang benar) atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar (seperti tidak melaksanakan rukun dan syaratnya, atau melaksanakannya tidak sesuai petunjuk dan tuntunan Råsulullåh shållallåhu 'alayhi wa sallam).
2. Menjelekkan dan mengejek orang lain, bangga denan amalan yang telah dilakukannya.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).” (Al Hujuraat: 11)
3. Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”
4. Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
5. Meniru wanita-wanita kafir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”
6.Menyaksikan film-film porno dan mendengarkan nyanyian.
7.Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
8.Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
9.Membiarkan suami dalam kemaksiatannya
10.Bersahabat dengan wanita-wanita fajir dan fasik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang itu menurut agama temannya.”
11.Tabarruj (pamer kecantikan)
Demikian wasiat yang pertama, wasiat yang berikutnya akan saya tampilkan lain kali. Selamat membaca dan mengamalkan...
Wasiat Pertama:: Bertakwa kepada Allah dan menjauhi maksiat
Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami
Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik
Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa cukup)
Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah
Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya
Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.
Wasiat kedelapan: Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya.
Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).
Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.
Wasiat-wasiat tersebut akan saya terangkan satu persatu
Wasiat Pertama:: Bertakwa kepada Allah dan menjauhi maksiat
Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti seorang wanita yang telah bermaksiat kepada Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami…”
Wahai hamba Allah…
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu dan menjaga untukmu suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…”
Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:
1.Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya (tanpa alasan yang benar) atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar (seperti tidak melaksanakan rukun dan syaratnya, atau melaksanakannya tidak sesuai petunjuk dan tuntunan Råsulullåh shållallåhu 'alayhi wa sallam).
2. Menjelekkan dan mengejek orang lain, bangga denan amalan yang telah dilakukannya.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).” (Al Hujuraat: 11)
3. Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”
4. Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
5. Meniru wanita-wanita kafir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”
6.Menyaksikan film-film porno dan mendengarkan nyanyian.
7.Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
8.Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
9.Membiarkan suami dalam kemaksiatannya
10.Bersahabat dengan wanita-wanita fajir dan fasik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang itu menurut agama temannya.”
11.Tabarruj (pamer kecantikan)
Demikian wasiat yang pertama, wasiat yang berikutnya akan saya tampilkan lain kali. Selamat membaca dan mengamalkan...
Sabtu, 20 November 2010
LIMA BALA AKIBAT MELANGGAR PERINTAH ALLAH SWT
Dari Abdullah bin Umar dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: "Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya;
1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha'un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan.
4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
5. Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka. (HR Ibnu Majah 4009)
Saudaraku, sungguh jika kita perhatikan hadits ini lalu direfleksikan kepada kondisi negeri dimana kita hidup dewasa ini – bahkan kondisi dunia secara umum – maka nyata benar bahwa kelima-limanya sudah menjadi kenyataan pada zaman penuh fitnah dewasa ini..! Silahkan kita perhatikan satu per satu peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas:
Pertama, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta kita mewaspadai tersebarnya faakhisyah (kekejian) secara terang-terangan di tengah masyarakat. Bila kekejian telah menyebar di tengah masyarakat, maka berbagai penyakit Tha’un (menular) beserta kelaparan akan menggejala di tengah kaum tersebut yang tidak pernah terjadi pada para pendahulu mereka.
Sejujurnya, inilah yang sekarang berlaku. Karena banyaknya bentuk kekejian secara terang-terangan yang muncul di tengah kita, maka kitapun menyaksikan banyaknya orang yang terjangkit penyakit menular serta kelaparan. Berbagai tayangan dan pemberitaan di televisi menyiarkan banyaknya dan bervariasinya kekejian yang dilakoni manusia modern. Setiap hari kita disajikan berbagai isu dan gosip mengenai perselingkuhan, perselisihan dan perceraian para selebritis bahkan tokoh masyarakat. Malah belakangan ini kita sering mendengar banyaknya kasus bayi yang kelahirannya tidak diharapkan, sehingga sang ibu dengan teganya meninggalkan si bayi di sembarang tempat. Mengapa bayi itu ”dibuang”? Karena sang ibu tidak mau menanggung malu sebab bayi tadi merupakan hasil hubungan di luar pernikahan (baca: perzinaan). Oleh karenanya, Al-Qur’an tidak saja mengharamkan orang-orang beriman untuk berzina, bahkan mendekati perbuatan zina saja sudah dilarang...!
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Israa ayat 32)
Bahkan kita juga disajikan kekejian di tengah masyarakat berupa terang-terangannya manusia menjalin hubungan seksual sejenis (kelamin), baik itu lelaki dengan sesamanya (gay alias homosexuality) maupun wanita dengan sesamanya (lesbianisme). Malah di sebagian negara bagian Amerika Serikat sudah ada undang-undang yang meresmikan pernikahan sesama jenis kelamin. Padahal Al-Qur’an dengan jelas dan tegas mengharamkan perilaku keji ini:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ أَئِنَّكُمْ
لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
”Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fakhisyah itu sedang kamu melihat (nya)?" Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)".(QS An-Naml ayat 54-55)
Jika demikian keadaannya, masihkah kita perlu heran mengapa terdapat berbagai penyakit menular di tengah masyarakat negeri ini, malah masyarakat dunia secara umum? Sehingga kita dengar dimana-mana manusia ketakutan dengan penyakit menular seperti demam berdarah dan lain sebagainya. Bahkan dunia dikejutkan dengan munculnya berbagai penyakit menular baru yang tidak pernah terjadi pada para pendahulu seperti misalnya flu burung dan flu babi. Begitu pula, masihkah kita mesti kebingungan mengapa kelaparan merebak di negeri ini bahkan di seluruh dunia, padahal majalah Forbes baru saja melansir daftar 1000 orang terkaya di dunia yang mana salah seorang di antara mereka aset kekayaannya ada yang mencapai sepertiga kekayaan negara Indonesia, yaitu lebih dari 50 milyar dollar Amerika...?! Wallaahu a’lam bishshowab
1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha'un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan.
4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
5. Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka. (HR Ibnu Majah 4009)
Saudaraku, sungguh jika kita perhatikan hadits ini lalu direfleksikan kepada kondisi negeri dimana kita hidup dewasa ini – bahkan kondisi dunia secara umum – maka nyata benar bahwa kelima-limanya sudah menjadi kenyataan pada zaman penuh fitnah dewasa ini..! Silahkan kita perhatikan satu per satu peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas:
Pertama, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta kita mewaspadai tersebarnya faakhisyah (kekejian) secara terang-terangan di tengah masyarakat. Bila kekejian telah menyebar di tengah masyarakat, maka berbagai penyakit Tha’un (menular) beserta kelaparan akan menggejala di tengah kaum tersebut yang tidak pernah terjadi pada para pendahulu mereka.
Sejujurnya, inilah yang sekarang berlaku. Karena banyaknya bentuk kekejian secara terang-terangan yang muncul di tengah kita, maka kitapun menyaksikan banyaknya orang yang terjangkit penyakit menular serta kelaparan. Berbagai tayangan dan pemberitaan di televisi menyiarkan banyaknya dan bervariasinya kekejian yang dilakoni manusia modern. Setiap hari kita disajikan berbagai isu dan gosip mengenai perselingkuhan, perselisihan dan perceraian para selebritis bahkan tokoh masyarakat. Malah belakangan ini kita sering mendengar banyaknya kasus bayi yang kelahirannya tidak diharapkan, sehingga sang ibu dengan teganya meninggalkan si bayi di sembarang tempat. Mengapa bayi itu ”dibuang”? Karena sang ibu tidak mau menanggung malu sebab bayi tadi merupakan hasil hubungan di luar pernikahan (baca: perzinaan). Oleh karenanya, Al-Qur’an tidak saja mengharamkan orang-orang beriman untuk berzina, bahkan mendekati perbuatan zina saja sudah dilarang...!
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Israa ayat 32)
Bahkan kita juga disajikan kekejian di tengah masyarakat berupa terang-terangannya manusia menjalin hubungan seksual sejenis (kelamin), baik itu lelaki dengan sesamanya (gay alias homosexuality) maupun wanita dengan sesamanya (lesbianisme). Malah di sebagian negara bagian Amerika Serikat sudah ada undang-undang yang meresmikan pernikahan sesama jenis kelamin. Padahal Al-Qur’an dengan jelas dan tegas mengharamkan perilaku keji ini:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ أَئِنَّكُمْ
لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
”Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fakhisyah itu sedang kamu melihat (nya)?" Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)".(QS An-Naml ayat 54-55)
Jika demikian keadaannya, masihkah kita perlu heran mengapa terdapat berbagai penyakit menular di tengah masyarakat negeri ini, malah masyarakat dunia secara umum? Sehingga kita dengar dimana-mana manusia ketakutan dengan penyakit menular seperti demam berdarah dan lain sebagainya. Bahkan dunia dikejutkan dengan munculnya berbagai penyakit menular baru yang tidak pernah terjadi pada para pendahulu seperti misalnya flu burung dan flu babi. Begitu pula, masihkah kita mesti kebingungan mengapa kelaparan merebak di negeri ini bahkan di seluruh dunia, padahal majalah Forbes baru saja melansir daftar 1000 orang terkaya di dunia yang mana salah seorang di antara mereka aset kekayaannya ada yang mencapai sepertiga kekayaan negara Indonesia, yaitu lebih dari 50 milyar dollar Amerika...?! Wallaahu a’lam bishshowab
SUMIYATI OH.. SUMIYATI
Malang nian nasib Sumiyati, Tenaga Kerja Wanita asal Dompu NTB ini. Dia mengalami penyiksaan berat yang dilakukan oleh majikan dan anak majikannya waktu bekerja di Arab Saudi. Tidak tanggung-tanggung, majikannya menggunting bibir atas Sumiyati. Selain itu dia juga mengalami berbagai penyiksaan fisik lainnya. Berbagai penyiksaan tersebut membuatnya terbaring lemah di sebuah rumah sakit di Arab Saudi sana.
Tak tertanggungkan penderitaan yang kini dialami oleh Sumiyati. Sumiyati yang dulu berwajah manis dan lembut kini berubah bak tengkorak hidup. Pipinya yang dulu gembul kini kempot bagaikan tak terurus. Siapakah yang peduli dengan nasib Sumiyati?
Apakah pihak PJTKI peduli pada nasibnya? Ataukah pemerintah bersedia menanggung semua beban yang kini dialami oleh Sumiyati?
Memang tidak masuk di akal. Kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini bak kejadian di dalam negeri dongeng. Nurani manusia negeri ini telah terkikis, terkorupsi oleh gelimang materi. Pihak PJTKI hanya peduli pada uang yang bisa didapatkan dari para Tenaga Kerja. Mereka tidak peduli ketika tenaga kerja yang mereka kirimkan ke luar negeri mengalami ketidakadilan, mulai dari gaji yang tidak dibayar, pemerkosaan, pemyiksaan fisik sampai pada cedera berat dan penghilangan sebagian anggota tubuh, seperti yang telah dialami Sumiyati.
Sementara para tenaga kerja ini ternyata tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai oleh pihak PJTKI yang mengirimkannya. Bayangkan bagaimana jadinya bila Anda berada di negeri asing yang Anda tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan bahasa mereka, atau paling tidak berkomunikasi dengan bahasa yang banyak digunakan?
Sumiyati ini tidak bisa berbahasa Arab dan Inggris. Maka bagaimana caranya dia bisa mengerti perintah dari majikannya? Bagaimana mungkin majikannya tidak kesal karena berulangkali menyuruh Sumiyati untuk mengepel, menyeterika ataupun mencuci baju tetapi Sumiyati tidak kunjung mengerjakannya karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh majikannya?
Tentu saya tidak bermaksud untuk membela majikan Sumiyati. Nurani manusia mana pun tidak akan terima pada perlakuan yang kejam, tidak beradab dan tidak manusiawi ini. Bagaimanapun juga banyak faktor yang menyebabkan penyiksaan TKI terus berlanjut selain yang telah saya sebutkan di atas. Antara lain lemahnya diplomasi pemerintah dengan negara-negara di luar negeri dan tidak tegasnya sikap pemerintah pada PJTKI PJTKI liar yang banyak beroperasi di negeri ini.
Meskipun umpamanya pemerintah menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri masih banyak PJTKI liar yang mau dan akan mengirimkan TKI ke luar negeri, karena masih banyak juga warga Negara Indonesia yang tergiur oleh gaji yang banyak dengan bekerja di luar negeri. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan di negeri sendiri dan taraf pendidikan yang rendah memicu banyaknya orang yang ingin mengadu nasib ke luar negeri. Mereka melihat peluang emas memiliki gaji besar hanya dengan menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang.
Dalam hal ini bisa kita lihat efek dominonya, berputar-putar ke masalah itu-itu saja. Rendahnya taraf pendidikan sekarang ini dipicu oleh rendahnya anggaran biaya pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu perlu usaha yang simultan dan kontinyu dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu waktu bertahun-tahun dan perlu kerjasama yang kompak dari semua elemen pemerintahan untuk mewujudkannya. Yang terpenting pemerintah mau serius berusaha menyelesaikan masalah ini sehingga tidak akan ada lagi Sumiyati-Sumiyati yang lain. Tidak hanya bereaksi ketika terjadi penyiksaan lagi dan mengendur lagi setelahnya.
Tak tertanggungkan penderitaan yang kini dialami oleh Sumiyati. Sumiyati yang dulu berwajah manis dan lembut kini berubah bak tengkorak hidup. Pipinya yang dulu gembul kini kempot bagaikan tak terurus. Siapakah yang peduli dengan nasib Sumiyati?
Apakah pihak PJTKI peduli pada nasibnya? Ataukah pemerintah bersedia menanggung semua beban yang kini dialami oleh Sumiyati?
Memang tidak masuk di akal. Kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini bak kejadian di dalam negeri dongeng. Nurani manusia negeri ini telah terkikis, terkorupsi oleh gelimang materi. Pihak PJTKI hanya peduli pada uang yang bisa didapatkan dari para Tenaga Kerja. Mereka tidak peduli ketika tenaga kerja yang mereka kirimkan ke luar negeri mengalami ketidakadilan, mulai dari gaji yang tidak dibayar, pemerkosaan, pemyiksaan fisik sampai pada cedera berat dan penghilangan sebagian anggota tubuh, seperti yang telah dialami Sumiyati.
Sementara para tenaga kerja ini ternyata tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai oleh pihak PJTKI yang mengirimkannya. Bayangkan bagaimana jadinya bila Anda berada di negeri asing yang Anda tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan bahasa mereka, atau paling tidak berkomunikasi dengan bahasa yang banyak digunakan?
Sumiyati ini tidak bisa berbahasa Arab dan Inggris. Maka bagaimana caranya dia bisa mengerti perintah dari majikannya? Bagaimana mungkin majikannya tidak kesal karena berulangkali menyuruh Sumiyati untuk mengepel, menyeterika ataupun mencuci baju tetapi Sumiyati tidak kunjung mengerjakannya karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh majikannya?
Tentu saya tidak bermaksud untuk membela majikan Sumiyati. Nurani manusia mana pun tidak akan terima pada perlakuan yang kejam, tidak beradab dan tidak manusiawi ini. Bagaimanapun juga banyak faktor yang menyebabkan penyiksaan TKI terus berlanjut selain yang telah saya sebutkan di atas. Antara lain lemahnya diplomasi pemerintah dengan negara-negara di luar negeri dan tidak tegasnya sikap pemerintah pada PJTKI PJTKI liar yang banyak beroperasi di negeri ini.
Meskipun umpamanya pemerintah menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri masih banyak PJTKI liar yang mau dan akan mengirimkan TKI ke luar negeri, karena masih banyak juga warga Negara Indonesia yang tergiur oleh gaji yang banyak dengan bekerja di luar negeri. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan di negeri sendiri dan taraf pendidikan yang rendah memicu banyaknya orang yang ingin mengadu nasib ke luar negeri. Mereka melihat peluang emas memiliki gaji besar hanya dengan menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang.
Dalam hal ini bisa kita lihat efek dominonya, berputar-putar ke masalah itu-itu saja. Rendahnya taraf pendidikan sekarang ini dipicu oleh rendahnya anggaran biaya pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu perlu usaha yang simultan dan kontinyu dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu waktu bertahun-tahun dan perlu kerjasama yang kompak dari semua elemen pemerintahan untuk mewujudkannya. Yang terpenting pemerintah mau serius berusaha menyelesaikan masalah ini sehingga tidak akan ada lagi Sumiyati-Sumiyati yang lain. Tidak hanya bereaksi ketika terjadi penyiksaan lagi dan mengendur lagi setelahnya.
SYARI’AT PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN
Kemarin sekolah tempat saya bekerja menyembelih hewan qurban. 1 ekor sapi dan 4 ekor kambing. Semua guru dan karyawan dibantu oleh siswa kelas 6 dan penduduk yang rumahnya berdekatan dengan sekolah bekerjasama menyembelih, memotong dan membagi-bagikan hewan qurban tersebut. Gema takbir terus berkumandang dari mikrofon musholla sekolah.
Ketika saya membaca buku Bekal-Bekal Idul Adha yang ditulis oleh Abu Salma Al-‘Atsari di sana tertulis tata cara penyembelihan hewan qurban. Dalil penyembelihan hewan qurban adalah Surat Al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi :
Fasholli lirobbika wanhar
“ Maka sholatlah untuk Rabb-mu dan berkurbanlah”
Diantara dalil sunnah akan disyariatkannya qurban adalah hadis shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata : “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang berwarna amlah dan bertanduk, yang beliau sembelih dengan tangan beliau sendiri dengan menyebut nama Allah dan bertakbir lalu meletakkan kaki beliau pada bagian kedua belikatnya.”
Fadhilatusy Syaikh Abdullah Alu Bassam dalam Taissirrul ‘allam (hal. 535) menjelaskan : “amlah maksudnya adalah warna abu-abu yang di dalamnya ada warna putih dan hitam dimana putihnya lebih dominan dibandingkan hitamnya.”
Hukum menyembelih hewan qurban menurut jumhur ulama hukumnya adalah Sunnah Muakkad, sebagaimana diterangkan di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah. Diantara mereka yang berpendapat ini adalah as-Syafi’iyah dan al-Hanabilah, pendapat terkuat dari pendapat Malik dan salah satu riwayat dari Abu Yusuf. Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakr, Umar, Bilal, Abi Mas’ud al-Badri, Suwaid bin Ghoflah, Sa’id bin al-Musayyib, ‘Atho’, Alqomah, al-Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir. Mereka beristidlal dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : ‘Apabila telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah) dan kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (mengambil) rambut dan kukunya sedikitpun.”
Sisi pendalilannya adalah ucapan Nabi ‘Jika kalian berkeinginan” yang menunjukkan hal ini diserahkan kepada kehendak. Apabila berkurban itu wajib, niscaya sabda Nabî akan menjadi : “Janganlah menyentuh rambutnya sedikitpun sampai berkurban dengannya.”
Diantara dalilnya pula adalah, bahwa Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu “Anhum tidak berkurban pada satu atau dua tahun, dengan alasan khawatir manusia menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Perbuatan kedua orang yang mulia ini menunjukkan bahwa keduanya mengetahui bahwa Rasulullah tidak mewajibkannya, dan tidak pula ada seorang sahabatpun yang menyelisihi hal ini.
Kriteria Hewan yang dijadikan kurban adalah sebagai berikut :
1. Kurban tidak boleh kecuali hanya sapi, kerbau, kambing, domba dan unta,
2. Boleh berpatungan untuk membeli seekor sapi bagi 7 orang, unta 10 orang dan
kambing hanya untuk 1 orang.
3. Usia hewan kurban. Untuk kambing tidak sah apabila usianya kurang dari satu
tahun, lembu apabila kurang dari dua tahun dan belum memasuki tahun ketiga,
dan unta apabila usianya kurang dari empat tahun belum memasuki tahun
kelima.
4. Tidak cacat dengan suatu cacat yang jelas.
Waktu penyembelihan hewan qurban adalah pada pagi hari setelah sholat ‘Id sampai berakhirnya hari tasyriq. Penyembelihan sebelum sholat ‘Id adalah tidak sah, sebagaimana hadis Nabî Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : “ Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat (‘Id) maka hendaklah ia menyembelih hewan lainnya sebagai gantinya” [muttafaq ‘Alaihi].
Ada beberapa larangan di dalam berkurban yang perlu dihindari oleh orang yang berkurban, diantaranya adalah :
1. Memotong bulu dan kuku hewan qurban semenjak awal Dzulhijjah hingga
penyembelihanL ‘ DUL ADHHA
2. Berkurban dengan hewan yang cacat.
3. Berkurban dengan hewan yang masih kecil
4. Menyembelih kurban pada malam hari raya ‘Idul Adha atau pagi hari sebelum
sholat ‘Id dengan alasan agar kaum fakir miskin dapat merasakan dan
memakannya pada hari raya.
5. Menjual hewan kurban dan membagikan nilainya (uangnya) kepada fakir miskin
dengan alasan hal ini lebih dapat membantu kaum fakir miskin.
6. Tidak menenangkan hewan kurban ketika akan menyembelihnya.
7. Melukai hewan kurban atau menyiksanya.
8. Tidak menyebut nama Allah ketika berkurban
9. Memberikan upah kepada penjagal dengan bagian dari hewan kurban.
10. Menjual kulit hewan kurban.
BEKAL-BEKAL ‘ DUL ADHHA
Ketika menyembelih hewan kurban, maka hendaknya dilakukan dengan tenang dan tidak menyiksa hewan kurban.
Berikut ini beberapa etika di dalam menyembelih hewan kurban
1. Alat untuk menyembelih hendaknya yang tajam
2. Menyebut nama Allah ketika menyembelih.
3. Menghadap kiblat sebagaimana hadis yang dating dari Jabir bin Abdillah
radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi ketika akan menyembelih mengarahkannya ke
kiblat.
4. Memotong tengorokan, kerongkongan dan dua urat lehernya dalam waktu
bersamaan agar segera mati dan tidak tersiksa.
5. Menenangkan hewan kurban dan tidak membuatnya takut atau tersiksa.
Ketika saya membaca buku Bekal-Bekal Idul Adha yang ditulis oleh Abu Salma Al-‘Atsari di sana tertulis tata cara penyembelihan hewan qurban. Dalil penyembelihan hewan qurban adalah Surat Al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi :
Fasholli lirobbika wanhar
“ Maka sholatlah untuk Rabb-mu dan berkurbanlah”
Diantara dalil sunnah akan disyariatkannya qurban adalah hadis shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata : “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang berwarna amlah dan bertanduk, yang beliau sembelih dengan tangan beliau sendiri dengan menyebut nama Allah dan bertakbir lalu meletakkan kaki beliau pada bagian kedua belikatnya.”
Fadhilatusy Syaikh Abdullah Alu Bassam dalam Taissirrul ‘allam (hal. 535) menjelaskan : “amlah maksudnya adalah warna abu-abu yang di dalamnya ada warna putih dan hitam dimana putihnya lebih dominan dibandingkan hitamnya.”
Hukum menyembelih hewan qurban menurut jumhur ulama hukumnya adalah Sunnah Muakkad, sebagaimana diterangkan di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah. Diantara mereka yang berpendapat ini adalah as-Syafi’iyah dan al-Hanabilah, pendapat terkuat dari pendapat Malik dan salah satu riwayat dari Abu Yusuf. Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakr, Umar, Bilal, Abi Mas’ud al-Badri, Suwaid bin Ghoflah, Sa’id bin al-Musayyib, ‘Atho’, Alqomah, al-Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir. Mereka beristidlal dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : ‘Apabila telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah) dan kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (mengambil) rambut dan kukunya sedikitpun.”
Sisi pendalilannya adalah ucapan Nabi ‘Jika kalian berkeinginan” yang menunjukkan hal ini diserahkan kepada kehendak. Apabila berkurban itu wajib, niscaya sabda Nabî akan menjadi : “Janganlah menyentuh rambutnya sedikitpun sampai berkurban dengannya.”
Diantara dalilnya pula adalah, bahwa Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu “Anhum tidak berkurban pada satu atau dua tahun, dengan alasan khawatir manusia menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Perbuatan kedua orang yang mulia ini menunjukkan bahwa keduanya mengetahui bahwa Rasulullah tidak mewajibkannya, dan tidak pula ada seorang sahabatpun yang menyelisihi hal ini.
Kriteria Hewan yang dijadikan kurban adalah sebagai berikut :
1. Kurban tidak boleh kecuali hanya sapi, kerbau, kambing, domba dan unta,
2. Boleh berpatungan untuk membeli seekor sapi bagi 7 orang, unta 10 orang dan
kambing hanya untuk 1 orang.
3. Usia hewan kurban. Untuk kambing tidak sah apabila usianya kurang dari satu
tahun, lembu apabila kurang dari dua tahun dan belum memasuki tahun ketiga,
dan unta apabila usianya kurang dari empat tahun belum memasuki tahun
kelima.
4. Tidak cacat dengan suatu cacat yang jelas.
Waktu penyembelihan hewan qurban adalah pada pagi hari setelah sholat ‘Id sampai berakhirnya hari tasyriq. Penyembelihan sebelum sholat ‘Id adalah tidak sah, sebagaimana hadis Nabî Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : “ Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat (‘Id) maka hendaklah ia menyembelih hewan lainnya sebagai gantinya” [muttafaq ‘Alaihi].
Ada beberapa larangan di dalam berkurban yang perlu dihindari oleh orang yang berkurban, diantaranya adalah :
1. Memotong bulu dan kuku hewan qurban semenjak awal Dzulhijjah hingga
penyembelihanL ‘ DUL ADHHA
2. Berkurban dengan hewan yang cacat.
3. Berkurban dengan hewan yang masih kecil
4. Menyembelih kurban pada malam hari raya ‘Idul Adha atau pagi hari sebelum
sholat ‘Id dengan alasan agar kaum fakir miskin dapat merasakan dan
memakannya pada hari raya.
5. Menjual hewan kurban dan membagikan nilainya (uangnya) kepada fakir miskin
dengan alasan hal ini lebih dapat membantu kaum fakir miskin.
6. Tidak menenangkan hewan kurban ketika akan menyembelihnya.
7. Melukai hewan kurban atau menyiksanya.
8. Tidak menyebut nama Allah ketika berkurban
9. Memberikan upah kepada penjagal dengan bagian dari hewan kurban.
10. Menjual kulit hewan kurban.
BEKAL-BEKAL ‘ DUL ADHHA
Ketika menyembelih hewan kurban, maka hendaknya dilakukan dengan tenang dan tidak menyiksa hewan kurban.
Berikut ini beberapa etika di dalam menyembelih hewan kurban
1. Alat untuk menyembelih hendaknya yang tajam
2. Menyebut nama Allah ketika menyembelih.
3. Menghadap kiblat sebagaimana hadis yang dating dari Jabir bin Abdillah
radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi ketika akan menyembelih mengarahkannya ke
kiblat.
4. Memotong tengorokan, kerongkongan dan dua urat lehernya dalam waktu
bersamaan agar segera mati dan tidak tersiksa.
5. Menenangkan hewan kurban dan tidak membuatnya takut atau tersiksa.
Senin, 15 November 2010
Gak ada suami, ada sedihnya ada senangnya ...
Sudah sejak hari Sabtu kemarin suami saya pergi ke Jogja. Katanya sih mau ikut bantu korban bencana merapi. Duh.. saya takut juga kalau tiba-tiba wedhus gembelnya turun lagi.. kan sudah banyak relawan yang ikut jadi korban..Makanya saya wanti-wanti suami saya agar tidak usah ikut naik ke gunung untuk evakuasi korban. Beliau sih mengiyakan. Dalam hati saya selalu berdo'a semoga suami saya kembali dalam keadaan selamat, dan semoga Merapi menghentikan aktivitasnya.
Sedihnya ketika gak ada suami adalah saya jadi tidak berani tidur sendirian. Padahal dulu ketika masih single sungguh gak ada masalah jika tidur sendirian. Sekarang harus nunggu bener-bener ngantuk baru mau tidur. soalnya kalau sudah berbaring di tempat tidur.. hii ... pikirannya sering ke mana-mana.. ada setan lah apa lah he he he..
Senangnya jadi gak ada lagi yang ngatur-ngatur .. he he (maaf ya suamiku sayang ....)
gak usah masak, lebih nyantai, bersihin rumah kalau mau aja, plus kalau lagi malas banget.. gak mandi mandi seharian!! he he...
terus juga bisa nonton film and main game semalaman. Hal inilah yang sering kena kritik dan semprot oleh suami saya. Biasanya beliau akan marah dan langsung mematikan tivi or komputer kalau saya tidak juga berhenti.
maklum saya ini termasuk orang yang suka nonton film and nge game. betah banget kalau sudah di depan tivi or komputer..
Anyway besok suami saya sudah pulang. Maunya sih pulang hari ini.. saya kan Idul Adhanya ikut besok.. Bukannya tidak percaya pada pemerintah.. Kiblat umat Islam kan ada di Ka'bah Mekkah jadinya ya kalau Mekkah sudah Idul Adha ya saya ikut idul adha. Simpel aja.. Jadinya sholat Idul Adhanya ikut Rabu aja.. habis mau sholat gak ada yang menemani sih..
Khasiat Bawang Merah Untuk Kesehatan
Tanaman umbi-umbian yang sering kita jumpai salah satunya adalah bawang merah. Bawang merah selalu ada di dapur kita setiap hari. Orang Indonesia jika memasak tanpa memakai bawang merah tidak akan sedap rasanya. Tidak “mak- nyuus…” begitu kata Pak Bondan.
Di desa-desa masih banyak terdapat semangat kegotong royongan, tidak seperti di kota besar. Oleh karena itu masih dapat kita temui acara memasak bersama ketika ada saudara atau tetangga yang punya hajatan. Salah satu agendanya adalah mengiris berkilo-kilo bawang merah. Jika kita tidak terbiasa memasak, pastilah mata kita akan berair seperti orang menangis ketika mengiris bawang merah-bawang merah tersebut.
Oleh karena itu ada ahli terapis yang memakai bawang merah untuk pengobatan mata. Caranya adalah dengan merangsang mata untuk mengeluarkan air mata dengan menggunakan bawang merah. Ketika kita menangis banyak kotoran mata yang keluar. Akibatnya mata kita menjadi lebih sehat dan pandangan menjadi jernih.
Selain itu para ilmuwan mendapati bahwa bawang merah bisa membantu tubuh menyingkirkan kolesterol jahat penyebab serangan jantung dan stroke. Pada saat yang sama bawang merah dapat mempertahankan kolesterol yang baik di dalam tubuh, yang membantu mencegah serangan jantung.
Para ilmuwan asal Hong Kong melakukan percobaan dengan menghaluskan bawang merah dan memberikannya kepada hamster yang telah diberi diet tinggi kolesterol. Dalam delapan pekan mereka mendapati kadar kolesterol buruk/Low Density Lipoprotein (LDL) pada binatang tersebut turun rata-rata 20 persen.
Namun pada saat yang sama, tidak ditemukan adanya penurunan kolesterol baik/High Density Lipoprotein HDL.
Zhen Yu Chen yang memimpin penelitian di Universitas Hong Kong mengatakan, “Meskipun ada banyak penelitian tentang bawang, tapi masih sedikit diketahui bagaimana konsumsinya berinteraksi dengan gen manusia dan protein yang terlibat dalam metabolisme kolesterol di dalam tubuh. Dengan demikian penelitian kami membuktikan adanya interaksi antara bawang dengan enzim-enzim dalam mekanisme penurunan kolesterol.”
“Ini adalah penelitian yang pertama yang meneliti tentang interaksi bawang merah dengan fungsi biologis. Hasilnya mendukung klaim yang mengatakan bahwa mengkonsumsi rutin bawang merah dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner. Demikian tambah professor Zhen.
Memang memakan bawang merah bisa membuat nafas berbau tidak sedap, akan tetapi setelah mengetahui manfaatnya yang besar, sekarang ini Anda tidak ragu lagi untuk mengkonsumsinya bukan??