Laman

Kamis, 23 Desember 2010

JANGAN MENGGUNAKAN KEMASAN STYROFOAM UNTUK MAKANAN PANAS

Cerita ini didapatkan oleh suami saya pada saat surfing di internet beberapa waktu lalu. Dia menemukan sebuah blog yang dia sudah lupa namanya dan mengkopi artikel ini ke dalam flashdisknya. Karena dianggap bermanfaat untuk disebarluaskan saya mengutipnya kembali di dalam blog pribadi saya.

>>Berikut mungkin pengalaman pribadi saya yang perlu dapat diketahui bersama dan untuk dapat menjadi bahan kewaspadaan kita.

Saat tinggal di asrama yang belum ada dapurnya dan di kamar juga tidak boleh memasak, maka semua pemenuhan kebutuhan dalam hal makan harus diatasi dengan jalan membeli jadi. Pada keadaan tertentu, saya lebih suka memilih membeli makanan untuk dibawa dan dimakan di rumah. Kalau dimakan di tempat, dihitung jatuhnya akan lebih mahal karena harus membeli minuman juga.

Makanan yang dipesan disini, ada warung makan yang sudah siap masak atau ada yang harus memasak terlebih dahulu menyesuaikan dengan pesanan. Untuk warung dengan makanan siap saji, pelayan akan membungkus nasi dan lauk sesuai yang dipesan. Untuk warung dengan makanan yang dimasak dahulu, tentu saja pembeli harus menunggu masakan diolah dulu dan setelah siap lalu dikemas. Tentu saja kalau masakan yang ini terasa lebih fresh karena baru saja dimasak dan masih terasa panas. Tetapi justru masalah panas inilah yang ternyata menyebabkan satu permasalahan baru.

Tiap-tiap warung, cara pengemasan makanannya juga berbeda-beda. Kalau di Indonesia, ada yang menggunakan daun pisang atau kertas minyak. Di negara tetangga sini, lebih banyak menggunakan plastik yang ditaruh di atas kertas koran. Untuk makanan yang berkuah, menggunakan kemasan plastik. Namun ada juga yang menggunakan kemasan styrofoam untuk mengemas makanan.

Seperti diketahui bahwa disini banyak sekali jamuan atau pesta dengan banyak pengunjung. Dalam menjamu tamu tersebut, biasa juga digunakan gelas, piring atau mangkok yang terbuat dari styrofoam. Bahan yang sama juga ada dalam bentuk wadah kotak yang bisa ditutup, sehingga praktis untuk menaruh makanan. Jadi bahan styrofoam ini sangat popular sekali untuk digunakan sehari-hari. Termasuk dalam hal ini, styrofoam juga dipilih oleh beberapa kedai makan sebagai tempat menaruh makanan yang dipesan untuk dibawa pulang.

Saya sering mencoba beberapa tempat makan untuk mencari yang sesuai dengan lidah Jawa saya. Ada satu tempat yang kebetulan memang cocok dan enak masakannya. Tapi kalau ke warung makan tersebut, saya terpaksa harus makan di tempat karena pernah punya pengalaman mengerikan saat pesan makanan untuk dibawa pulang. Hal ini terkait dengan styrofoam juga. Saya membeli nasi goreng dan telur dadar. Setelah siap, saya melihat makanan yang dipesan dan dikemas dalam dua wadah styrofoam. Setelah saya bayar dan dibawa ke rumah, saya terperanjat begitu membuka tas, karena ada cairan yang tumpah. Dalam bayangan saya, tadi mungkin miring, sehingga ada kuah yang tertumpah. Tetapi kemudian ingat kembali bahwa saya hanya memesan nasi goreng dan telur dadar, darimana cairan ini ? Begitu diamati, tampak lebih parah lagi karena ternyata kemasan styrofoam itu berlubang di beberapa bagian karena meleleh. Bahan styrofoam ini ternyata meleleh setelah terkena minyak dari telur dadar yang dimasukkan ke dalamnya pada saat masih panas. Akhirnya karena sudah malam dan lapar tentu saja makanan harus tetap dimakan sebagian saja, yang kira-kira tidak terkena lelehan styrofoam ini.

Iseng lebih lanjut, styrofoam tersebut kalau diperhatikan maka bagian yang meleleh adalah yang memang terkena panas cukup tinggi. Hal ini ditandai pada bagian yang kontak dengan telur dadah. Untuk panas yang tidak cukup tinggi, yaitu pada wadah nasi goreng, ternyta permukaannya juga di beberapa tempat menjadi semacam berlubang dan tidak rata lagi. Hal ini dapat dibayangkan jika telah terjadi lelehan juga walaupun cuma di bagian permukaan saja.

Kemasan styrofoam itu terbuat dari polimer sejenis polystyrene (PS). Kalau di industri, dikenal sebagai plastik dengan kode angka 6. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang terdiri dari komponen monomer styrene. Styren dapat muncul dari styrofoam yang terbakar atau bahkan saat kontak dengan bahan yang masih panas saat terjadi kontak. Dari beberapa kutipan, diketahui bahwa styrene ternyata sangat berbahaya untuk kesehatan otak, dapat mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah kesehatan reproduksi, pertumbuhan dan sistem syaraf (wah bahaya nih, bisa-bisa jadi tidak mampu menulis artikel blog ini dong). Styrene adalah bahan yang relatif susah untuk didaur ulang.

Jadi tentu saja dengan pengalaman di atas, maka kita semua harus selektif untuk memilih kemasan makanan. Baik sebagai pembeli maupun sebagai penjual diperlukan kewaspadaan ini. Kemasan lain yang terbuat dari plastik juga sebenarnya berbahaya juga, walaupun mungkin tidak seperti styrofoam, tetapi juga harus diwaspadai. Kalau masih bisa menggunakan daun pisang maka lebih dianjurkan, Cuma karena kebutuhannya yang akan sangat besar tentu saja juga akan menjadi kendali lagi. Bisa saja pembeli selalu membawa wadah makanan dari rantang logam stainless atau aluminium, atau dapat juga dari jenis plastik yang lebih aman dan kuat panas. Hanya saja seringkali pembeli juga tidak mau direpotkan dengan membawa rantang ini sebelumnya.

Cara yang lebih dianjurkan tentu saja adalah dengan memperhatikan panas makanan yang akan dikemas, mungkin dibiarkan lebih dingin terlebih dahulu dan setelah hangat baru dimasukkan ke wadah. Cara ini merupakan pilihan yang paling mungkin diterapkan bagi warung-warung makan. Hanya saja pembelinya diminta lebih sabar lagi untuk menunggu makanannya jadi lebih dingin sedikit.

Pada akhirnya tentu saja kita sendiri yang harus memilih, bagaimana caranya untuk dapat selalu hidup sehat. Termasuk dalam hal penggunaan styrofoam dalam kehidupan kita sehari-hari.>>

POLIGAMI, DALAM PERSPEKTIF WANITA

Beberapa waktu yang lalu publik dihebohkan dengan berita poligami seorang kyai yang sangat populer di kalangan ibu-ibu.. Sang Kyai dikabarkan menikah lagi dengan seorang janda beranak satu padahal beliau sudah memiliki seorang istri yang setia, baik hati dan sholehah dan empat orang anak-anak yang lucu. Pernikahan kedua Sang Kyai membuat kecewa jama’ah pengajiannya yang didominasi oleh ibu-ibu. Tak ayal lagi ibu-ibu tadi memboikot pengajian Sang Kyai dan tidak mau lagi mengikuti ceramah-ceramah beliau yang terkenal santun, lucu, cerdas, berbobot tapi ringan tersebut.

Lebih parah lagi, kampung islami yang dirintis oleh Sang Kyai lengkap dengan berbagai bidang usaha yang sedang digarapnya, terancam gagal total karena tidak banyak lagi jama’ah yang datang sekedar ingin bertamu, mengaji ilmu ataupun bertemu dengan Sang Kyai dan keluarganya. Kabar terakhir menyebutkan bahwa semua usaha Sang Kyai bangkrut dan terancam gulung tikar.

Media massa terutama infotainment ikut turut andil dalam membesar-besarkan masalah. Akhirnya Kyai yang dulu terkenal dan sanggup menyampaikan dakwah yang mudah diterima oleh semua kalangan, kini tidak dipercaya lagi oleh publik.

Kasus poligami yang lain terjadi di negeri ini. Seorang pengusaha islam yang kaya raya dan memiliki pondok pesantren di Jawa Tengah dikabarkan menikahi seorang gadis yang masih berusia belasan tahun. Nyatanya praktek poligami seperti ini banyak dilakukan oleh kyai-kyai di daerah pedalaman. Tetapi hanya Si Pengusaha ini yang kena getahnya. Padahal dia hanya mempunyai dua istri saja, sementara para kyai tersebut punya lebih dari lima orang istri, sementara syari’at hanya membolehkan maksimal sampai empat orang istri saja.

Masyarakat sekarang cenderung tidak setuju dengan poligami dan bahkan memandang rendah pelaku poligami. Di sisi lain, mereka membiarkan praktek perzinaan dan prostitusi terjadi di negeri ini, bahkan ikut menikmati hasil dari jual-beli tubuh melalui pajak yang rutin didapat oleh pemerintah setiap bulannya. Singkatnya, mereka lebih suka suami mereka “jajan” di warung daripada menikah lagi secara syah dan dihalalkan oleh agama, serta bebas dari penyakit menular seksual yang sekarang ini semakin kompleks.

Para pelaku poligami cenderung beralasan bahwa jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan lelaki. Jadi wajar saja apabila lelaki beristri lebih dari satu, karena mereka ingin memberi kesempatan kepada wanita untuk merasakan kebahagiaan dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi jumlah tersebut bersifat kondisional, tergantung keadaan di negara msing-masing. Misalnya di Cina yang jumlah laki-laki jauh lebih banyak dari wanita, sampai-sampai para pria harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan jodohnya. Tentu saja membutuhkan biaya banyak jika harus ke luar negeri, sehingga pria miskin hanya dapat menggigit jari meratapi nasib, bahkan ada yang berujung bunuh diri.

Hal ini terjadi karena pemerintah Cina, dengan alasan penduduknya terlalu banyak, mengeluarkan kewajiban keluarga berencana-satu keluarga satu anak-bagi warganya. Sementara itu anggapan para warga sendiri bahwa anak perempuan tidak bisa membawa nama keluarga, dan wanita lebih rendah derajatnya dari laki-laki, mendorong mereka untuk berusaha sedapat mungkin melahirkan anak laki-laki, bahkan jika ternyata anak yang dikandung perempuan, mereka menggugurkannya dan atau menjualnya ke luar negeri setelah dilahirkan. Rendahnya jumlah wanita di Cina tidak lantas mendorong dibolehkannya Poliandri-kebalikan dari poligami, satu wanita bersuami banyak pria.

Jika kita menilik sirah Rasulullah saw, kita akan mengetahui makna di balik dibolehkannya poligami oleh Allah swt, yang pertama adalah untuk membatasi jumlah istri para sahabat Rasulullah.

Allah mewahyukan Q.S An Nisaa’ ayat 3 yang berbunyi :

“Wa in khiftum allaa tuqsithuu fil yataamaa fankihuu maa thoobalakum minan nisaai matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa’a. fa in khiftum allaa ta’diluu fawaahidatan”

Artinya : “Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah (perempuan-perempuan lain) yang kamu sukai, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja”

Dahulu sebelum turun ayat tersebut di atas para sahabat Rasulullah saw mempunyai banyak istri sehingga istri dan anak-anak mereka tidak tercukupi kebutuhannya baik kebutuhan materi maupun kasih sayang. Ayat ini diturunkan untuk membatasi jumlah istri-istri para sahabat dan umat yang lahir setelah mereka agar tercipta kemakmuran, keadilan dan ketentraman di kalangan umat Islam.

Semua poligami yang dilakukan oleh Rasulullah saw bukan untuk mengumbar nafsu, tetapi ada tujuan mulia dibalik itu, antara lain:

A. Untuk dakwah Islam
Pada jaman Rasulullah dahulu, masyarakat Arab terkotak-kotak oleh kabilah-kabilah. Anggota kabilah sangat tergantung oleh pemimpinnya dalam bertindak dan menentukan nasib mereka di tangan pemimpin kabilah. Oleh karena itu Rasulullah menikahi 3 orang istri beliau yang merupakan putri dari para pemimpin kabilah dengan tujuan agar pemimpin kabilah tersebut memeluk agama Islam sehingga diikuti oleh para anggota kabilah. 3 orang istri beliau tersebut antara lain :
1. Shafiyyah binti Huyay, putri dari pemimpin kabilah Yahudi
2. Juwairiyah binti Al-Harits, putri dari Bani Musthaliq
3. Putri Abu Sufyan, penentang terbesar dakwah Rasulullah saw

B. Untuk menyantuni janda-janda tua dan anak yatim
Setelah Khadijah ra wafat, Rasulullah belum memikirkan untuk mencari pendamping beliau. Akhirnya seorang sahabat menyarankan beliau untuk menikahi Saudah, seorang janda yang sudah tua umurnya, agar bisa merawat dan mendampingi Rasulullah saw selama berdakwah.

C. Menghormati perjuangan dalam menegakkan agama Islam
Rasulullah menikahi Ummu Salamah sebagai penghargaan karena beliau adalah perempuan pertama yang hijrah ke Habasyah. Diriwayatkan bahwa setelah dakwah islam mulai meluas, kaum kafir Quraisy di Mekkah tidak suka terhadap perkembangan islam. Mereka mulai melakukan penyiksaan terhadap para pengikut Rasulullah saw. Oleh karena itu Rasulullah memerintahkan untuk berhijrah ke Habasyah untuk menghindari penyiksaan, agar umat Islam tetap kuat imannya dan Ummu Salamah termasuk dalam kelompok orang yang berhijrah tersebut.

D. Meredefinisikan kembali status anak angkat
Rasulullah mempunyai seorang anak angkat bernama Zaid bin Haritsah yang dinikahkan oleh beliau dengan saudara sepupu beliau yaitu Zainab binti Jahsyi. Zaid adalah seorang bekas budak belian yang berkulit hitam dan Zainab adalah seorang putri bangsawan yang cantik jelita. Zainab tidak ikhlas dengan pernikahan tersebut karena dia tidak menemukan hal yang bisa membuatnya mencintai Zaid sehingga dia bias tulus mengabdi kepada suaminya. Kemudian Zaid menceraikan Zainab. Setelah itu turun perintah Allah swt agar Rasulullah menikahi Zainab dengan tujuan agar masyarakat di kala itu tidak menyamakan anak angkat dengan anak kandung. Bahwa seseorang diperbolehkan menikahi mantan istri anak angkat tetapi tidak boleh menikahi mantan istri anak kandung.

E. Mempererat hubungan dengan para sahabat
Ada empat orang sahabat Rasulullah yang sangat mencintai beliau dan sangat beliau cintai. Mereka adalah Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam rangka mempererat tali persaudaraan dengan mereka Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar bin Khattab, serta menikahkan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dengan putri beliau Ruqayyah dan Fatimah.

Di antara para istri Rasulullah saw, hanya Aisyah binti Abu Bakar yang dinikahi beliau dalam keadaan masih perawan. Hal ini menjelaskan bahwa Rasulullah bukanlah maniak seks, tetapi beliau mempunyai tujuan mulia dibalik semua pernikahan yang beliau lakukan, yang sulit diteladani oleh para pelaku poligami di masa sekarang ini.

Mengingat bahwa poligami bisa menjadi solusi atas perzinaan dan prostitusi yang marak di negeri ini, tidak ada salahnya untuk berpoligami asalkan memenuhi syarat berikut ini :

1. Atas sepengetahuan istri pertama
2. Adil baik terhadap anak maupun istri. Adil di sini tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan materi saja, tetapi juga harus membagi cinta dan kasih yang adil terhadap istri-istri dan anak-anak yang dilahirkan. Ini adalah syarat yang sulit karena sangat sedikit manusia yang bisa berlaku adil.
3. Tidak bertujuan untuk menyengsarakan baik istri pertama maupun istri selanjutnya. Pernikahan yang dilakukan tidak bertujuan untuk menyengsarakan wanita-wanita yang dinikahinya. Wanita-wanita tersebut harus ridho dan ikhlas baik menjadi istri pertama, kedua, ketiga ataupun keempat. Tidak ada pemaksaan kehendak dan tidak ada perlakuan yang berat sebelah maupun yang tidak manusiawi.
4. Jika istri mandul dan tidak bisa memberikan keturunan ataupun tidak bisa melayani suami karena faktor usia ataupun penyakit. Dalam hal ini justru menjadi kewajiban istri untuk mencarikan istri lain bagi suaminya. Karena jika dia tidak melakukannya dia akan menanggung dosa karena menghalang-halangi seseorang untuk mendapatkan keturunan dan menanggung dosa sebab bisa saja suami tidak tahan dan menyalurkan hasrat biologisnya kepada wanita yang belum menjadi istrinya.

Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya

Khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
Berapa banyak rumah tangga yang masuk padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya!!?
Ingatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya yang bergadang dan memelihara pria yang sekarang menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia atas kesungguhannya dan hargailah apa yang telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan memeliharamu. Maka adakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan?!

Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah

Seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya. Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.

Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu (mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang sangat di gunung hingga hampir-hampir tenggorokanku terbakar.

Maka aku persiapkan untuknya air yang dingin hingga ia dapat meminumnya jika ia datang. Aku menata dan merapikan barang-barangku (perabot rumah tangga) dan aku persiapkan hidangan makan untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya dengan mengenakan pakaianku yang paling bagus.
Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku menyambutnya sebagaimana pengantin menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia ingin beristirahat maka aku membantunya dan jika ia menginginkan diriku aku pun berada di antara kedua tangannya seperti anak perempuan kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”

Jumat, 10 Desember 2010

Wasiat Keempat - Bersikap qana’ah (merasa cukup)

Kami menginginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu.
Dalam riwayat disebutkan : “Wanita yang paling besar barakahnya.”
Wahai siapa gerangan wanita itu?!
Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta menuruti selera syahwatnya dan mengenyangkan keinginannya?
Ataukah dia yang biasa mengenakan pakaian termahal walau suaminya harus berhutang kepada teman-temannya untuk membayar harganya?!
Sekali-kali tidak… demi Allah, namun (mereka adalah): “Wanita yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan maharnya.” (Hadits DhĂ„if Riwayat Hakim)[10]
Renungkanlah wahai saudariku muslimah adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami:
“Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa sabar dari api neraka…”

Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu jawabannya dari pada diriku.

Rabu, 08 Desember 2010

Sepuluh Wasiat Untuk Wanita - Wasiat Ketiga

Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik

Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya.

Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali.”

Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata dalam memberi nasehat kepada para wanita: “Wahai sekalian wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya.”
Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah. Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita bagaimanakah yang terbaik?”
Beliau menjawab:“Yang menyenangkan suami ketika dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)

Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Setiap ibu pasti mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna. Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat. Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangannya.

Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha menyikapi “kesulitan-kesulitan yang dialaminya.

Akan tetapi keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.

Ada beberapa kesalahan yang sering ibu lakukan ketika memotivasi anak, yaitu :

1. Membuat Anak Merasa Bersalah
Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri dan tidak mempunyai rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerjanya.

Motivasi yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya ketika ibu mengatakan : “ Kamu sayang sama Mama, nggak? Kalau sayang sama Mama, kamu harus belajar yang baik. Mama tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Mama, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat rangking satu. Lihat itu, Papa tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit. Makanya kamu harus pintar.”

2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai

Ketika anak Anda pulang ke rumah dan menunjukkan hasil ulangannya kepada Anda, lalu Anda menanggapi begini: “ Aduh, Nak. Masak pelajaran begini saja kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah. Coba lihat itu kakakmu. Dia pintar, nggak seperti kamu.”

Jika hal ini terjadi, pasti dia akan kecewa. Menurutnya dia sudah berusaha keras dan dia juga sudah mendapatkan nilai yang lebih baik dari biasanya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai. Bukan hanya itu, mental anak juga bisa sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bukan itu saja, anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga akhirnya ia mendapati dirinya benar-benar bodoh di sekolah.

Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehingga ia akan lebih bersemangat untuk mencapai prestasi yang lebih baik di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.

Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji. Jika tidak anak akan merasa bosan belajar sehingga dia tidak bisa berprestasi lagi.

3. Menghancurkan Harga Diri Anak

Anda pasti sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan. Kalau saja anda merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orang tua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.

Sikap menceritakan keburukan dan kejelekan anak kepada orang lain ini dapat menjadikan anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan. Pada saat itu ia telah berhasil melampiaskan kejengkelan terhadap orangtua.

4. Membuat Anak Defensif

Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap defensif, tidak mau menuruti kemauan orang lain. Jika sangat terpaksa, ia baru akan menurut. Tetapi hanya agar tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.

Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo sekarang belajar.”

5. Mendorong Anak Balas Dendam

Ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk membalas dendam. Misalnya sikap keras dan memaksakan kehendak kepada anak. Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.

Seorang ibu bisa mengajukan alternatif hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian.

Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang kuat. Hal ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun anak jauh dari orangtua.

Selamat Mencoba………….

Sabtu, 04 Desember 2010

"Cerita Tentang Film Three Idiots"

Seorang anak pembantu yang jenius berhasil masuk kuliah di ICE, sebuah universitas teknik yang sangat terkenal di India. Bukan saja universitas ini termasuk universitas favorit, lulusannya juga berpredikat sebagai lulusan terbaik di seantero negeri, tetapi juga sangat susah untuk kuliah di universitas ini. Banyak pelamar yang setiap tahun datang, tetapi hanya segelintir orang saja yang berhasil.

Tidak terkecuali si anak pembantu jenius ini, dia berhasil menyingkirkan ratusan pelamar sehingga dia bisa kuliah di universitas yang sangat didambakannya. Bagaimana si anak pembantu jenius ini-Ranchordas Syamaldas Chanchad namanya-bisa membiayai kuliah di ICE? Seperti yang kita tahu, sekolah favorit pastilah sekolah yang mahal. Ternyata dia dikuliahkan oleh majikannya. Yang lebih mengejutkan, ternyata nama aslinya bukanlah Ranchordas Syamaldas Chancad, tetapi Punsukh Wangdu.

Ya, dia memakai nama anak majikannya karena majikannya lah yang memintanya untuk kuliah atas nama anaknya itu. Majikannya beralasan bahwa dia ingin salah satu keturunannya ada yang bisa baca tulis, bahkan dia ingin bisa kuliah di universitas ternama seperti ICE itu. Jadilah Punsukh Wangdu kuliah di universitas kebanggaan orang India.

Anehnya Punsukh Wangdu tidak seperti orang lain. Dia hanya ingin kuliah bukan untuk mengejar gelar, akan tetapi dia ingin pandai. Hal ini yang jarang didapati di lingkungan kita. Siapa sih orangnya yang tidak ingin berpendidikan tinggi? Sebab pendidikan tinggi menjanjikan pekerjaan yang layak. Tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan lulusan SD meskipun orang itu sangat pandai, bukan?

Pada akhirnya Punsukh Wangdu berhasil menjadi ilmuwan ternama yang memiliki 400 lebih hak paten, walaupun dia tidak memiliki gelar apapun.

Film yang memberi inspirasi ini layak ditonton baik oleh pengajar maupun orang tua yang sangat ingin anaknya menjadi pandai. Film ini bisa mereformasi habis-habisan cara kita belajar dan mengajar. Kabarnya film ini bertahan sampai 5 bulan di bioskop-bioskop di Jakarta. Sebuah prestasi yang membanggakan bagi sebuah film yang sarat dengan pesan pendidikan.

SELAMAT MENONTON!!!